
Tangkapan layar kemunculan buaya endemik Bengawan Solo, di Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. (ANTARA/HO Dinas Damkarmat Bojonegoro)
JawaPos.com - Sebuah fenomena alam yang unik telah menarik perhatian warga Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, yaitu kemunculan buaya endemik Bengawan Solo.
Meskipun bagi sebagian orang mungkin merupakan hal yang mengejutkan, namun bagi warga setempat, fenomena ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang lumrah atau biasa dan tidak menimbulkan ketakutan.
Dikutip dari ANTARA, Sabtu (16/3), menurut Abu Ali, Kepala Desa Kebonagung, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat lalu, warga setempat telah menganggap lumrah adanya kemunculan buaya tersebut sejak sekitar tahun 2021.
"Setiap hari banyak (warga) yang melihat buaya itu muncul, warga biasa saja tidak takut," ungkap Kepala Desa Kebonagung Kecamatan Padangan, Abu Ali, Jum'at.
Meskipun buaya berukuran kecil ini sering kali muncul di sekitar Bengawan Solo, namun tidak ada ancaman yang ditimbulkan terhadap hewan ternak maupun penduduk sekitar.
"Munculnya buaya antara pukul 9 sampai 10 pagi, lokasinya pun di seputaran itu saja. Buaya itu kalau lihat orang, buaya malah kabur. Jadi tidak membahayakan," jelas Kepala Desa Kebonagung yang sudah dua periode menjabat itu.
Abu Ali menjelaskan bahwa lokasi munculnya buaya berada di sekitar belakang kandang kambing warga, tepatnya di RT.07 RW.03 Desa Kebonagung.
Daerah Sungai Bengawan Solo ini telah diyakini sebagai habitat alami bagi buaya, dan telah menjadi pengetahuan umum bagi warga setempat.
Meskipun baru-baru ini seorang buaya berukuran 2,5 meter berhasil ditangkap, namun kemunculan buaya lainnya tetap terjadi.
Menurut Kepala Desa, kemungkinan masih ada lebih dari 10 ekor buaya dengan ukuran sekitar 1 hingga 2 meter yang berkeliaran di sekitar daerah tersebut.
"Kemungkinan jumlahnya masih ada lebih dari 10 ekor buaya, ukurannya kecil antara 1 sampai 2 meter saja," tutur Kades berusia 51 tahun.
Pemerintah Desa Kebonagung telah mengambil langkah-langkah antisipatif untuk memastikan keselamatan warga setempat.
Mereka telah menghimbau agar masyarakat, terutama anak-anak, untuk tidak bermain di lokasi tersebut meskipun buaya tersebut tidak dianggap membahayakan.
Meskipun demikian, keberadaan buaya di tepi Bengawan Solo yang dipenuhi semak-semak dan pohon bambu tetap menjadi perhatian pemerintah desa setempat.
"Mudah-mudahan tidak membahayakan. Hanya memang habitat buaya di Bengawan Solo, tepiannya semak-semak dan pohon bambu," katanya

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
