Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 16 Maret 2024 | 13.55 WIB

Warga Bojonegoro Anggap Lumrah dan Tidak Takut Kemunculan Buaya Endemik Sungai Bengawan Solo

Tangkapan layar kemunculan buaya endemik Bengawan Solo, di Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. (ANTARA/HO Dinas Damkarmat Bojonegoro) - Image

Tangkapan layar kemunculan buaya endemik Bengawan Solo, di Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. (ANTARA/HO Dinas Damkarmat Bojonegoro)

JawaPos.com - Sebuah fenomena alam yang unik telah menarik perhatian warga Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, yaitu kemunculan buaya endemik Bengawan Solo.

Meskipun bagi sebagian orang mungkin merupakan hal yang mengejutkan, namun bagi warga setempat, fenomena ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang lumrah atau biasa dan tidak menimbulkan ketakutan.

Dikutip dari ANTARA, Sabtu (16/3), menurut Abu Ali, Kepala Desa Kebonagung, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat lalu, warga setempat telah menganggap lumrah adanya kemunculan buaya tersebut sejak sekitar tahun 2021.

"Setiap hari banyak (warga) yang melihat buaya itu muncul, warga biasa saja tidak takut," ungkap Kepala Desa Kebonagung Kecamatan Padangan, Abu Ali, Jum'at.

Meskipun buaya berukuran kecil ini sering kali muncul di sekitar Bengawan Solo, namun tidak ada ancaman yang ditimbulkan terhadap hewan ternak maupun penduduk sekitar.

"Munculnya buaya antara pukul 9 sampai 10 pagi, lokasinya pun di seputaran itu saja. Buaya itu kalau lihat orang, buaya malah kabur. Jadi tidak membahayakan," jelas Kepala Desa Kebonagung yang sudah dua periode menjabat itu.

Abu Ali menjelaskan bahwa lokasi munculnya buaya berada di sekitar belakang kandang kambing warga, tepatnya di RT.07 RW.03 Desa Kebonagung.

Daerah Sungai Bengawan Solo ini telah diyakini sebagai habitat alami bagi buaya, dan telah menjadi pengetahuan umum bagi warga setempat.

Meskipun baru-baru ini seorang buaya berukuran 2,5 meter berhasil ditangkap, namun kemunculan buaya lainnya tetap terjadi.

Menurut Kepala Desa, kemungkinan masih ada lebih dari 10 ekor buaya dengan ukuran sekitar 1 hingga 2 meter yang berkeliaran di sekitar daerah tersebut.

"Kemungkinan jumlahnya masih ada lebih dari 10 ekor buaya, ukurannya kecil antara 1 sampai 2 meter saja," tutur Kades berusia 51 tahun.

Pemerintah Desa Kebonagung telah mengambil langkah-langkah antisipatif untuk memastikan keselamatan warga setempat.

Mereka telah menghimbau agar masyarakat, terutama anak-anak, untuk tidak bermain di lokasi tersebut meskipun buaya tersebut tidak dianggap membahayakan.

Meskipun demikian, keberadaan buaya di tepi Bengawan Solo yang dipenuhi semak-semak dan pohon bambu tetap menjadi perhatian pemerintah desa setempat.

"Mudah-mudahan tidak membahayakan. Hanya memang habitat buaya di Bengawan Solo, tepiannya semak-semak dan pohon bambu," katanya

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore