Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Mei 2018 | 02.46 WIB

Selalu Belajar di Tengah Kesibukan Jualan Es Keliling

Nilna Safa Muhibba melayani pembeli di pinggir jalan depan Bank BRI Cabang Kota Bojonegoro. - Image

Nilna Safa Muhibba melayani pembeli di pinggir jalan depan Bank BRI Cabang Kota Bojonegoro.

JawaPos.com - Nilna Safa Muhibba tak banyak memiliki waktu bermain seperti anak seusianya. Di tengah kemajuan teknologi, Nilna juga tak bisa menikmati enaknya bermain gadget. Bocah kelas lima itu sudah harus membanting tulang membatu nafkah keluarga.


Safa bersama orang tuanya tinggal di Jalan Sersan Mulyono, Kelurahan Klangon, Kota Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim). Bapaknya bekerja sebagai tukang ojek online. Sedangkan ibu Safa di rumah mengasuh sang adik. "Ya, ingin bantu ibu saja. Kasihan sama ibu kalau harus cari uang sendiri," kata bocah kelahiran 18 Februari 2006 itu saat ditemui JawaPos.com, Rabu (2/5).


Sehari-hari, anak nomor dua dari empat bersaudara itu bersekolah di SDN 1 Klangon. Setiap pulang sekolah, ada rutinitas yang dilakoni Safa. Bukan les privat atau kegiatan ekstrakulikuler lainnya. Melainkan berjualan es lilin. Menggunakan sepeda ontel, Safa menyusuri jalan untuk menjajakan barang dagangannya.


Setelah keluar dari rumah, Safa biasanya menuju jalan di depan Bank BRI Cabang Kota Bojonegoro. Menurutnya, di situ tempat paling strategis untuk berjualan karena ramai pengendara yang melintas.


"Saya sering mangkal di sini terlebih dahulu. Karena masih berat. Setelah berkurang, nanti baru berkeliling," ujar gadis berhijab itu sembari mengusap peluh di wajahnya.


Safa menjual es lilin dengan harga Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. Es lilin yang dijajakannya pun beraneka rasa. Ada rasa melon, jeruk, strowberi, coklat, durian dan aneka rasa lainnya.

"Setiap hari berjualan. Kalau hari libur saya akan jualan dua kali. Berangkat pagi dan siang hari. Pernah sampai jam delapan malam," tutur bocah yang berjualan es sejak pertengahan kelas empat SD itu.


Karena hampir setiap hari berkeliling, tak ayal kulit Safa pun terlihat kecoklatan karena terpapar sinar matahari. Meski begitu, dia tak pernah merasa malu. "Sudah banyak teman sekolah yang mengejek karena berjualan es. Tapi saya cuek saja. Kalau terlalu, kadang juga marah," ujarnya.


Ditanya soal pendapatan, dia mengaku tidak tahu. Penghasilan yang dia dapat tidak pernah dihitung. Karena selalu memberikan hasil jualan kepada ibunya.


"Semua yang menyiapkan ibu. Jadi saya tidak tahu satu termos berisi berapa es lilin. Tapi ini es yang kecil harganya Rp 2 ribu dan yang besar harganya Rp 3 ribu," ungkap anak yang bercita-cita menjadi arsitektur ini.


Hasil yang didapatkan setiap hari digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Ada pula sebagian yang ditabung. "Hasilnya untuk uang saku sekolah, beli susu dan popok adik. Juga ada yang ditabung," ungkapnya.


Meski sibuk berjualan es, Safa tak pernah melupakan kewajibannya sebagai pelajar. Yakni, belajar. "Setiap hari belajar. Kadang mulai jam sepuluh malam. Sampai ketiduran karena capek," tutup Safa.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore