Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Maret 2024 | 16.56 WIB

Tega! Korban Bullying SMP 17 Agustus 1945 Mengaku Disindir Guru hingga Dipaksa untuk Menandatangani Pernyataan yang Tidak Benar

Ibu korban perundungan Tumiasih mengaku sedih karena anaknya takut ke sekolah dan minta pindah Jumat (1/3). (Lugas) - Image

Ibu korban perundungan Tumiasih mengaku sedih karena anaknya takut ke sekolah dan minta pindah Jumat (1/3). (Lugas)

JawaPos.com – Dugaan perundungan di SMP 17 Agustus 1945, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, pada Senin (19/2), kian berbuntut panjang.

Korban berinisial RA, 14, l hingga Jumat (1/3) masih belum mau masuk ke sekolah karena trauma yang dialaminya.

Dilansir Radar Banyuwangi (JawaPos Grup), bocah kelas 8 itu bahkan menyampaikan pada orang tuanya terkait keinginan nya untuk pindah sekolah.

Sebenarnya, setelah kasus perundungan yang terjadi pada Senin (19/2) lalu, RA mengaku sudah sempat kembali lagi masuk ke sekolah.

Namun sayangnya, RA mengaku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari salah satu gurunya. “Saya disindir terus oleh salah satu guru, jadi tidak nyaman ke sekolah,” .

Sindiran dari gurunya itu membuat RA semakin takut untuk masuk sekolah. Ia pun akhirnya menyampaikan kepada orang tuanya untuk pindah sekolah.

“Minta pindah sekolah saja, takut ada yang dendam lalu mencegat saya,” cetusnya.

Selain itu, RA mengaku sekolah sempat memintanya untuk menandatangani surat pernyataan yang isinya tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

Di surat tersebut, tertulis pernyataan bahwa ia hanya dipukul oleh dua orang saja. “Padahal yang memukuli saya banyak,” cetusnya.

Merespon hal tersebut, Kepala SMP 17 Agustus 1945, Yuliati mengaku tidak pernah memaksa RA untuk menandatangani surat pernyataan.

“Itu bukan surat pernyataan, tapi laporan tertulis yang kami buat untuk laporan ke Dispendik (Dinas Pendidikan Banyuwangi),” dalihnya.

Terkait RA yang tidak mau kembali ke sekolah, Yuliati menyebut itu karena faktor psikologis. Berita tentang perundungan di sekolahnya ramai, dan siswa itu tidak berani sekolah.

Yuliati juga menyinggung bahwa, RA itu tergolong siswa yang kerap terlambat dan beberapa kali tidak masuk sekolah hingga absennya bolong-bolong

Sementara itu, Ibu kandung RA, Tumiasih, 43, mengatakan anaknya sering terlambat karena sepeda motor harus digunakan secara bergantian dengan ayahnya bekerja.

“Kalau pagi memang begitu, gentian pakai motornya, jadi sering terlambat,” ujarnya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore