Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Oktober 2022 | 18.39 WIB

STAHN Mpu Kuturan Singaraja-Bali Adakan Ritual Ngenteg Linggih

ritual Ngenteg Linggih atau ritual besar untuk Pura Agung Mpu Kuturan digelar di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Antara - Image

ritual Ngenteg Linggih atau ritual besar untuk Pura Agung Mpu Kuturan digelar di STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Antara

JawaPos.com–Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, mengadakan ritual Ngenteg Linggih atau ritual besar untuk Pura Agung Mpu Kuturan yang digunakan sebagai pusat praktik keagamaan di kampus keagamaan negeri tersebut.

”Ritual ini adalah ritual besar setelah pura kami selesai dibangun. Temanya Karya Agung Mamungkah atau Wraspati Kalpa Utama,” kata Ketua STAHN Mpu Kuturan I Gede Suwindia seperti dilansir dari Antara di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Senin (24/10).

Dia mengatakan, pura dengan arsitektur ukiran khas Bali utara tersebut tergolong unik, lantaran menggunakan bahan dari paras abasan di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan. ”Harapannya, pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan tak hanya sebagai momentum peningkatan sradha bakti sivitas akademika kampus, melainkan sebagai ikon pelestarian ukiran khas Buleleng yang perlahan mulai ditinggalkan,” kata I Gede Suwindia.

Dia menambahkan, penamaan Pura Agung Mpu Kuturan tidak terlepas dari spirit tokoh suci Mpu Kuturan yang mampu menyatukan beragam sekte di Bali pada zaman dahulu. Serta menata kehidupan beragama Umat Hindu di Bali.

”Kami sangat bangga sekali, astungkara berkat Ida Sesuhunan, Pura Agung Mpu Kuturan ini bisa terwujud meskipun melalui proses yang cukup panjang. Dan semoga ini semakin meningkatkan sradha bakti kami, dan mampu mengimplementasikan nilai-nilai suci yang diwariskan Mpu Kuturan, sehingga ke depannya lembaga ini senantiasa bisa melayani masyarakat dengan baik,” kata I Gede Suwindia.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama Nengah Duija mengapresiasi pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan. Hal itu sebagai implementasi dari filosofi Tri Hita Karana, khususnya dalam hal Parahyangan.

Mantan Rektor UHN Bagus Sugriwa itu mengatakan Parahyangan Pura Agung Mpu Kuturan itu sangat tepat difungsikan sebagai lab praktik keagamaan dari seluruh sivitas akademika. Spirit nama besar harus mengacu pada nilai karakter Mpu Kuturan yang sebenarnya.

”Karakter religius ini harus dibangun sejak dini kepada seluruh sivitas akademika. Mpu Kuturan adalah seorang arsitek dari keagamaan Hindu. Kalau ingin menjadi perguruan tinggi Hindu yang mampu bersaing, harus mampu menguasai bidang agama yang berlandaskan nilai kearifan lokal, dan senantiasa membina harmoni antara parahyangan, pelemahan, dan pawongan,” kata Nengah Duija.

Setelah puncak acara kemudian akan dilanjutkan dengan upacara nganyarin hingga Nyineb pada Selasa (25/10), sehingga total ada enam Sulinggih yang akan muput karya agung itu.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore