
Photo
JawaPos.com - Keris merupakan salah satu pusaka asli Indonesia. Sebagai benda pusaka, keris pun mempunya beragam jenis dan kelas. Bahkan dianggap keramat dan memiliki dampak tertentu, apabila pemiliknya tak kuat menyimpannya. Seperti yang ada pada adalah Keris Kanjeng Kyai Nogo Sardilo yang dipamerkan di Gedung DPRD Kota Surakarta, Minggu (15/5).
Untuk diketahui, gedung DPRD Kota Surakarta menggelar pameran keris dan beberapa pusaka lainnya. Tercatat ada 100 keris pusaka, ditambah tombak dan pedang yang dipamerkan.
Salah satu karya masterpiece yang dipertontonkan kemarin adalah Keris Kanjeng Kyai Nogo Sardilo.
Heri Suryo Wibowo, salah seorang panitia penyelenggara menjabarkan keris ini dibuat di era zaman Sultan Agung saat jadi Raja Kesultanan Mataram (1613-1645). Keris ini dibuat oleh empu keraton dan diperuntukkan bagi seorang petinggi kerajaan. “Dilihat dari motifnya tidak sembarangan, dan masuk kategori keris mahanani atau keris bernilai tinggi,” ujarnya dikutip dari Radar Solo.
Heri menuturkan kalau bentuk keris ini memiliki Dhapur Naga Singa, yaitu naga di atas singa. Untuk bahan penyusun terdiri dari wesi keris, dan untuk bagian bilah terbuat dari baja. Sedangkan untuk pamor terbuat dari iron meteorit.
“Dimana kandungan nikelnya cukup memenuhi syarat. Kemudian untuk hiasannya sendiri berlapis emas, dan juga ada berlian juga,” ujarnya.
Karena merupakan tinggalan yang cukup memiliki filosofis, Heri menuturkan keris ini memiliki aura tersendiri. Dimana pemiliknya butuh tingkat kemapanan spiritual secara khusus. Bila tidak, keris ini akan mengeluarkan hawa panas.
“Ya, kalau tidak dilandasi dengan spiritual yang cukup, ya mungkin sering cekcok sama keluarga. Kalau punya peliharaan, bisa mati,” jelasnya.
“Tapi itu cuma kepercayaan. Inti dari kepercayaan ini sebenarnya manusia tidak boleh kalah, dalam arti meningkatkan kualitas ibadah, dan kedekatan sang maha pencipta. Sehingga jika ada hal yang buruk tidak bisa mencelakakan dia,” sambungnya.
Keris ini kini dirawat oleh kolektor asal Karesidenan Surakarta. Bila dilihat secara fisik, pemiliknya saat ini mampu merawat pusaka berusia ratusan tahun tersebut dengan baik. “Hanya hiasannya saja yang agak hilang. Ya itu masih wajar karena usia. Tapi untuk harga (jual) masih menyentuh angka miliaran rupiah saat ini,” papar Heri.
Heri menuturkan, keris yang memiliki harga fantastis ini berdasarkan beberapa penilaian. Dalam dunia keris modern, penilaian ini terdiri dari beberapa aspek. Seperti bahan yang digunakan, hingga pamor keris itu sendiri.
“Kemudian keris ini akan dinilai sebilah keris apakah itu masuk dalam kelas tertinggi atau mahanani. Kemudian keris prayogi, keris sekeco, keris sae, keris cekap, kirang, rusak, cacat, hingga keris-kerisan. Yang jelas pusaka tersebut mampu menimbulkan daya sugesti positif. Memiliki makna, dan yang terpenting barang ini valid. Keasliannya harus bisa dibuktikan,” pungkas Heri.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
