
MAKAM GANTUNG: Makam Eyang Djojodigdo di Blitar. Di bagian cungkup tersimpan pusaka miliknya. (Frizal/Jawa Pos)
Kota Blitar memiliki banyak tokoh pejuang. Salah satunya Raden Ngabehi (RNg) Bawadiman Djojodigdo yang terkenal sakti mandraguna. Di makamnya yang disebut sebagai Makam Gantung, banyak terdapat pusaka yang jadi incaran banyak orang.
---
RNg Bawadiman Djojodigdo adalah patih ketiga Blitar. Eyang Djojodigdo, begitu dia dipanggil, adalah keturunan darah biru Keraton Mataram. Sejak berumur 12 tahun, dirinya sudah meninggalkan Jogjakarta dan tinggal di Blitar.
Eyang Djojodigdo bergabung dengan banyak tokoh untuk melawan Belanda. Dia berkawan dekat dengan Pangeran Diponegoro. Dalam aksinya melawan Belanda, Eyang Djojodigdo disebut-sebut sering tertangkap hingga dieksekusi. Namun anehnya, dia bisa hidup kembali saat jasadnya dilemparkan ke tanah. Kesaktian ini tak lepas dari ajian ilmu pancasona yang dimilikinya.
Pesanggrahan Eyang Djojodigdo ada di Jalan Melati 43, Kota Blitar. Di area seluas 3,5 hektare itu, terdapat sebuah rumah kuno yang keasliannya terjaga hingga kini. Tempat itu adalah rumah Eyang Djojodigdo semasa hidup. Di kompleks yang sama, makam Eyang Djojodigdo berada. Posisi nisannya lebih tinggi dibanding makam yang lain. Di bagian atasnya terdapat sebuah cungkup seperti atap sebuah bangunan. Orang Blitar menyebutnya sebagai Makam Gantung.
Di bagian nisan terdapat tulisan Jawa. Aksara itu berisi tanggal lahir dan meninggalnya Eyang Djojodigdo. Disebutkan Eyang Djojodigdo lahir pada 29 Juli 1827 dan meninggal 11 Maret 1909. Makam tersebut dibangun setahun setelah kematiannya. Tepatnya 18 Agustus 1910.
Ketika mengunjungi pesanggrahan tersebut, Jawa Pos berkesempatan bertemu dengan Handojo Prijo Soetedjo. Eyang Djojodigdo adalah buyut Handojo. Dia sempat mendiami rumah kuno itu selama 45 tahun. Handojo menjelaskan, istilah Makam Gantung muncul bukan karena makamnya digantung, melainkan karena baju kebesaran dan senjata Eyang Djojodigdo digantung di atas pusara. ’’Isinya ya seperti keris dan sebagainya,’’ sebut Handojo.
Sekitar 1980 pernah ada kejadian lucu. Kata dia, ada seorang yang hendak mencuri senjata dan pusaka yang ada di atas pusara. Bukan malah berhasil, pencuri tersebut justru bingung dan tidak bisa turun. ’’Kami tahunya di pagi hari,’’ kenangnya.
Yang dirasakan pencuri saat itu adalah bingung. Dia tidak bisa turun, apalagi keluar dari area makam. Kondisi pusaka dan senjata Eyang Djojodigdo memang sudah lapuk. Namun, nilai magisnya masih sangat kuat.
Banyak orang mengira jasad Eyang Djojodigdo dimakamkan menggantung. Hal ini karena ilmu pancasona yang dimilikinya. Ilmu tersebut konon membuat pemiliknya bangkit lagi jika jasadnya menyentuh tanah. Padahal, yang digantung adalah ilmunya, baju kebesaran, dan pusakanya.
Rumah mendiang Eyang Djojodigdo juga tak kalah magis. Sebagian besar kondisinya masih sama. Bagian ruang tamu dipenuhi banyak foto yang menempel di dinding. Tak terkecuali suami dari RA Kartini, Singgih Djoyo Adhiningrat, bupati Rembang. ’’Eyang ini adalah mertuanya RA Kartini,’’ ungkap Handojo.
Selain banyak foto keluarga, di ruang tamu juga terdapat pusaka tombak. Terdapat tiga jenis tombak dengan ukuran yang berbeda. Semua dibungkus dengan kain secara rapi. Tombak tersebut memiliki kekuatan magis. Konon, siapa yang memilikinya akan mendapat kesaktian.
Hal ini membuat orang nekat masuk untuk mencuri. Handojo menceritakan, sekitar 2014 ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Tujuannya mengambil pusaka tersebut. Lucunya, pencuri itu bisa masuk tapi susah keluar rumah. Alhasil, sampai pagi dia tetap berada di dalam rumah. ’’Akhirnya diamankan di polsek,’’ ucapnya.
Peninggalan lainnya juga banyak. Salah satunya uang logam. Tidak sedikit orang yang menemukan uang logam. Menurut Handojo, semua bergantung niatnya. Kalau dari awal niatnya buruk, pasti hasilnya buruk juga. Rumah tersebut dalam beberapa kesempatan dibuka untuk umum. Misalnya saat acara temu keluarga keturunan Eyang Djojodigdo.
Menurut Handojo, turunan Eyang Djojodigdo banyak yang menjadi orang penting. Termasuk tokoh dokter Raden Soetjipto Gondoamidjojo. Soetjipto adalah tokoh yang terlibat dalam pengamanan Rengasdengklok sebelum proklamasi. Bahkan, fotonya juga terpampang saat pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno. Kini, Soetjipto diperjuangkan untuk mendapat gelar pahlawan nasional.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
