Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Desember 2021 | 03.48 WIB

Kerap Terdengar Jerit Minta Tolong atau Perempuan Melintas

KENANGAN MENGERIKAN: Yasin (kiri) dan Suyono saat mengunjungi jalur yang memakan banyak nyawa di Situbondo, Jumat (3/12). (Alfian Rizal/Jawa Pos) - Image

KENANGAN MENGERIKAN: Yasin (kiri) dan Suyono saat mengunjungi jalur yang memakan banyak nyawa di Situbondo, Jumat (3/12). (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Suasana mencekam yang terjadi 18 tahun lalu masih lekat di ingatan Muhammad Yasin. Api yang berkobar melalap tubuh bus, suara tangisan remaja yang minta tolong, serta bau anyir yang bercampur hangus. Hingga kini kadang-kadang suara tangisan juga masih terdengar.

---

YASIN ingat betul malam itu. Rabu, 8 Oktober 2003. Bus rombongan SMK asal Sleman, Jogjakarta, terbakar di dekat pintu PLTU Paiton setelah terlibat tabrakan dengan truk tronton. Tragedi tersebut terjadi di jalan pantura perbatasan Situbondo– Probolinggo. Tepatnya di Kilometer 144, Desa Banyuglugur, Situbondo. Lokasi tersebut memang jalur tengkorak. Sering terjadi kecelakaan. Begitu pun korban yang meninggal.

Jumat (3/12) malam, Jawa Pos mendatangi lokasi laka tragis itu. Ditemani gerimis tipis, hawa dingin mulai menghampiri. Lalu-lalang kendaraan seolah menutupi kejadian pilu 18 tahun silam. Sekilas tidak ada yang berbeda. Hanya, kendaraan dari lajur timur selalu mengurangi kecepatan. Sesekali menyalakan lampu dim dan mengklakson. Ritual itu dilakukan untuk memperingatkan pengendara dari arah berlawanan. Sekaligus ’’permisi” kepada ’’penunggu” sekitar.

Di titik Km 144 tersebut, Yasin menceritakan kembali pengalamannya. Kala itu dia tak menyangka bahwa di dalam bus ada 54 remaja belasan tahun. Suasana kalut masih teringat jelas oleh Yasin. Apalagi saat dia membantu mendobrak pintu belakang bus. Teriakan dan tangisan langsung terdengar. Sebanyak 54 korban ternyata berada di belakang semua. ’’Saya kira sudah tidak ada penumpangnya,’’ ucapnya sembari menyusuri lokasi kejadian.

Banyaknya korban membuat petugas kesulitan untuk mengevakuasi. Menunggu ambulans. Jenazah ditempatkan di pinggir jalan. Malam itu memang sangat mencekam. Begitu pun hari-hari selanjutnya. Kejadian tragis tersebut membuat masyarakat ketakutan. Pedagang warung pinggir jalan memilih tutup. Entah apa alasan utamanya. Yang jelas, mereka takut saat malam.

Berita peristiwa tragis itu ramai mencuat. Begitu juga cerita mistis yang menyertainya. Saat itu bangkai bus belum dievakuasi. Malam kerap ada kejadian ganjil. Suara teriakan hingga tangisan sering terdengar dari dalam bus. Bahkan, tidak sedikit yang melihat bus itu goyang sendiri. Saat cerita tersebut ramai diperbincangkan, semua warung tutup. Apalagi saat itu minim penerangan.

Yasin sempat penasaran. Sekitar pukul 00.00 dia mendatangi bus. Kebetulan waktu itu dia masih menjadi petugas keamanan Paiton unit 1 dan 2. ’’Pas di lokasi ternyata tidak ada suara atau bus goyang sendiri,’’ ucapnya. Hanya, memang seminggu lebih suasana di Jalan Paiton mencekam. Warga sekitar tidak berani melintas saat malam.

Karena situasi yang tak kunjung membaik, warga sekitar menggelar acara rokat atau selamatan di masjid. Tujuannya, mendoakan para korban dan menghilangkan bala. Sebulan berlalu, situasi mulai kondusif. Aktivitas pedagang warung mulai buka lagi. Namun, tidak berarti semuanya sudah selesai. Kejadian mistis masih sering terjadi hingga sekarang.

Sosok perempuan kerap melintas di jalan pada malam hari. Begitu juga anak kecil. ’’Ada pengendara yang bilang begitu juga,’’ kata Yasin. Kalau tidak sosok perempuan baju putih ya biasanya muncul suara. Mulai tangisan, jeritan minta tolong, hingga suara sapaan dari perempuan.

Hal itu juga disampaikan Suyono, Sekdes Desa Binor, Kecamatan Paiton, Probolinggo. Menurut dia, sepanjang Jalan Paiton memang angker. Banyak yang bilang ada harimau dan ular besar yang kerap melintas. Wujud itu kerap dikaitkan dengan seringnya terjadi kecelakaan. ’’Laka di sini kebanyakan korbannya meninggal dunia,’’ ucapnya.

Dia menuturkan, pengendara sering melihat perempuan membawa seorang anak. Biasanya pada malam hari. Namun, kemunculannya biasanya pada malam tertentu saja. Selain dikenal sebagai jalan angker, jalur di sana memang sedikit menanjak sehingga kendaraan dari lawan arah tidak terlihat. Khususnya dari sisi timur. Apalagi, tanjakan itu dibarengi sedikit tikungan.

Kejadian 18 tahun lalu itu memang sudah lama. Namun, ingatan Yasin dan Suyono soal peristiwa tersebut masih jelas. Sampai sekarang. Begitu pun warga lain. Saat itu banyak warga sekitar yang menangis. Terutama ketika iring-iringan 54 ambulans yang membawa korban siswa SMK asal Sleman itu melintas.

Suyono mengatakan, acara rokat memang hanya digelar sekali setelah tragedi tersebut. Tapi, aktivitas kirim doa terus dilakukan warga. Terutama untuk menghindari adanya peristiwa serupa. Dia mengimbau, selain mengklakson, alangkah baiknya pengemudi berdoa dan bersalawat. ’’Jangan sampai bercanda,’’ ucapnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore