
Suasana Bandara Internasional Dhoho Kediri di malam hari.
JawaPos.com - Pembangunan bandara di sebuah daerah menjadi awal dari perubahan segala aspek di daerah tersebut. Bandara menjadi awal nama daerah mulai dikenal luas oleh masyarakat regional, nasional, bahkan internasional.
Meski mayoritas bandara di Indonesia masih menggunakan nama-nama daerahnya, tak sedikit juga bandara yang memiliki penamaan yang unik, bahkan kaya akan nilai sejarah.
Selain jadi bandara satu-satunya yang menggunakan skema KPBU dengan pembiayaan pihak swasta 100 persen, Bandara Internasional Dhoho Kediri juga memiliki sejarah penamaan yang bersejarah.
Dilansir dari akun Instagram Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan, @luhut.pandjaitan, dalam salah satu posting-annya, ia menceritakan tentang harapannya terhadap Bandara Dhoho ke depan. Ia juga menyelipkan asal usul penamaan nama bandara tersebut.
Luhut menuliskan bahwa nama Bandara Internasional Dhoho Kediri, diambil dari kata 'Dahanapura' yang memiki arti 'Kota Api'.
"Ke depan saya berharap pembangunan Bandara Dhoho ini bisa selesai tepat pada waktunya. Sehingga sesuai namanya, Dhoho, yang diambil dari kata "Dahanapura" yang berarti 'Kota Api'," tulis Luhut melalui posting-an akun Instagramnya.
Dilansir Radar Kediri (Jawa Pos Grup), bahwa kata 'Dahanapura' secara harfiah memiliki arti 'Kota Api'. Diketahui, dahulu kala 'Dahanapura' merupakan nama sebuah ibu kota negara pada masa kerajaan di Kediri.
Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa kota 'Dahanapura' merupakan kota kuno pusatnya dua kerajaan, yakni Kerajaan Kadiri dan Kerajaan Majapahit.
Sebagai jalan pusat pemerintahan Kota Kediri, dulunya Jalan Dhoho identik dengan keramaian dan sentra perekonomian, yang di setiap titik di sepanjang jalannya dipenuhi oleh para pedagang.
Deretan pertokoan yang pada malam harinya akan berganti dengan untaian para pedagang kaki lima, merupakan pemandangan yang dapat di temukan di jalan yang panjangnya hanya 750 meter itu.
Selain sebagai pusat perekonomian, di jalan ini dulunya juga terletak sebuah sentra peradaban. Bukan hanya dari zaman Kerajaan Kediri saja. Namun, sedari era kolonial, pra dan pasca-kemerdekaan.
Jalan ini bermula dari pertemuan Jalan Basuki Rahmad-Hayam Wuruk-Brawijaya dan berakhir di perempatan Sumurbor. Sumbangsih nilai sejarah dari jalan ini tak boleh dilupakan begitu saja.
Dari sejarah penamaan Bandara Dhoho Kediri itulah, beberapa masyarakat mulai mengusulkan untuk dibangunnya gerbang besar yang menunjukkan ikon Jalan Dhoho, bertuliskan 'Dahanaputra'.
Selain untuk mempercantik tampilan luar bandara, ikon tersebut juga dirasa sangat lekat dengan Kota Kediri, maka sudah selayaknya nama itu terus dipopulerkan.
Sementara itu, kata 'Dahanapura' yang memiliki arti sebagai 'Kota Api', diharapkan mampu menggelorakan roda perekonomian masyarakat wilayah Mataraman yang berdampak langsung bagi peningkatan taraf hidup masyarakat di Kabupaten Kediri dan Kabupaten lain di sekitarnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
