Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Juni 2021 | 05.01 WIB

Enam Warga Alami Gejala Kulit Melepuh, Diduga Penyakit Antraks

Pedagang sapi di Pasar Hewan Beji, Tulungagung. Destyan Sujarwoko/Antara - Image

Pedagang sapi di Pasar Hewan Beji, Tulungagung. Destyan Sujarwoko/Antara

JawaPos.com–Sedikitnya enam warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, dikabarkan mengalami gejala penyakit kulit yang ciri-cirinya mirip gejala penyakit antraks. Yakni kulit melepuh yang membentuk seperti lingkaran disertai gatal-gatal.

”Antraks di (Kecamatan) Pagerwojo, infonya sudah menyebar ke manusia. Ada enam warga yang (sudah) terkontaminasi, kulitnya bolong-bolong,” kata sumber anonim berlatar belakang ASN seperti dilansir dari Antara, Sabtu (5/6).

Saat informasi ini dikonfirmasikan ke pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Didik Eka tidak langsung membenarkan dengan dalih isu itu menjadi ranah kewenangan pimpinan. Dia merasa tidak berhak memberi pernyataan kendati memiliki data dan informasi awal mengenai wabah antraks pada ternak yang diduga telah menular pada warga sekitar tersebut.

”Jujur saya tidak berani komentar. Ini ranahnya masih (ada) di pimpinan. Jadi kalau memang begitu ya silakan langsung ke Pak Kadis (Kepala Dinas Kesehatan) saja,” kata Didik.

Namun, setelah mengetahui bahwa isu antraks pada ternak sapi di Pagerwojo sudah dipublikasi di media massa dengan mengutip pernyataan langsung dari Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, Didik pun kemudian membenarkan informasi adanya enam warga yang mengalami penyakit kulit yang gejalanya sangat mirip dengan ciri penyakit antraks.

”Kalau misalnya pernyataan Pak Bupati ada yang di hewan (ternak), ya monggo (silakan) itu ranahnya Disnak (Dinas Peternakan), ya. Tapi kalau (yang ke) manusia, dari ciri-ciri klinis memang ada. Tapi kami belum mendapat konfirmasi apakah itu antraks atau bukan,” ujar Didik kemudian.

Dia menjelaskan, ada enam warga yang sempat berobat ke Puskesmas Pagerwojo. Semuanya berasal dari Desa Sidomulyo. Saat datang, ada sejumlah bagian dari kulit mereka yang melepuh dan ada seperti membentuk cincin yang tengahnya gosong seperti (warna) arang. Ciri-ciri ini dalam ilmu medis dikenali sebagai ciri penyakit antraks.

”Mereka sudah diobati, namun tidak rawat inap. Kalau sudah (kondisi) begitu biasanya demam sudah beberapa hari sebelumnya,” tutur Didik.

Luka akibat penyakit kulit yang diduga kontaminasi bakteri antraks itu menyebar di beberapa bagian tubuh penderita. Ada yang di tubuh, betis, kaki, tangan, dan lainnya.

”Tetapi sementara, kami belum bisa memastikan antraks atau bukan karena hasil uji laboratorium belum kami terima dari Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta. Kalau sampelnya sudah kami kirim, atau lebih tepatnya dibawa Kepala BB Veteriner (Wates) Jogjakarta,” terang Didik Eka.

Diperkirakan, hasil uji laboratorium di BB Veteriner Wates Jogjakarta baru keluar sepekan setelah sampel dikirim. ”Mungkin Kamis (10/6) hasilnya baru kami terima,” ujar Didik.

Sebelumnya, Jumat (4/6), Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengonfirmasi bahwa penyebab kematian 26 ternak sapi di wilayah Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, dalam kurun sebulan terakhir adalah karena serangan virus antraks. Jumlah ternak yang mati di wilayah Desa Sidomulyo teridentifikasi sebanyak 29 ekor, dengan rincian 26 ekor sapi dan tiga ekor kambing.

Kasus yang sempat membuat warga gempar itu kemudian diselidiki Dinas Peternakan Tulungagung dengan mengerahkan tim Keswan untuk mengambil sampel isi lambung, darah, serta empedu, ternak yang mati. Tak hanya ternak yang sudah mati dan dikubur, petugas juga mengambil sampel darah serta feses ternak sapi hidup.

Sampel-sampel yang telah dikumpulkan kemudian diperiksakan di laboratorium di Surabaya dan hasilnya sebagaimana diumumkan Bupati Maryoto Birowo bahwa penyebab kematian diindikasi karena serangan virus antraks. Temuan itu kini telah dilaporkan ke Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Pertanian.

Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, Pemkab Tulungagung memberlakukan kebijakan penutupan atau pencegahan bagi peternak yang ingin membawa ternak sapi maupun kambing mereka keluar dari Desa Sidomulyo.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore