
Andy Budiman. (Dok Pribadi)
JawaPos.com- Hidup jangan cuma bisa mengeluh. Perlu ada langkah konkret untuk memperbaiki keadaan.
Prinsip seperti itulah yang bisa menggambarkan karir politik Andy Budiman. Andy yang punya latar belakang sebagai seorang jurnalis, sejatinya tidak suka politik. "Saya masuk politik karena kecelakaan. Sebelumnya, saya sama seperti masyarakat pada umumnya, apatis terhadap politik", ujar Andy.
Ditemui JawaPos.com, Jumat (23/11), di sebuah kedai kopi kawasan Trunojoyo Surabaya, gaya Andy ala kadarnya. Tidak parlente dengan balutan kemeja, hanya sebuah kaos hitam bertuliskan Bahasa Jerman. Gaya bicaranya tegas, penuh optimisme, dan argumentasinya selalu disertai data.
Andy menceritakan bagaimana awalnya dia ‘terjerumus’ ke politik. ”Yang meyakinkan saya (bergelut di politik) adalah Jokowi dan Ahok. Saya melihat bahwa orang bisa masuk politik, dan tetap tetap bersih. Nggak korupsi. Bu Risma juga contoh,” tambahnya.
Optimisme untuk mengubah wajah politik Indonesia, terasa sepanjang percakapan. Sejak berprofesi sebagai jurnalis, Andy sudah ngelontok dengan ide-ide demokrasi dan kebebasan. Dia dikenal sebagai salah seorang pendiri SEJUK (Serikat Jurnalistik untuk Kebergaman). Melalui komunitas tersebut, Andy menularkan semangat kepada wartawan-wartawan di Indonesia agar menerapkan prinsip jurnalisme yang benar dalam menulis pemberitaan terkait isu SARA. Wartawan harus netral, tidak boleh memasukkan keyakinan pribadi ketika menulis.
Setelah berjuang melalui jalur kewartawanan dan aktivisme sosial dalam isu toleransi, Andy akhirnya memutuskan untuk masuk jalur politik untuk memperjuangkan keragaman.
Tahun 2014, lelaki berkacamata itu melihat ada gejala mengkhawatirkan dalam politik Indonesia. ”Mulai ada kampanye pakai isu SARA, dengan skala yang belum pernah ada presedennya dalam sejarah pemilu Indonesia sejak 1955," ungkapnya.
Di sisi lain, Andy juga melihat ada harapan saat Jokowi terpilih sebagai presiden. Orang biasa yang berhasil mendobrak elite politik lama. "Kalau orang biasa seperti Jokowi bisa jadi presiden, maka akan membuka kemungkinan bagi orang-orang biasa lainnya untuk menduduki jabatan apapun di negeri ini", tutur mantan redaktur lembaga berita Jerman Deutsche Welle (DW) tersebut. Tahun 2014, Andy memutuskan kembali pulang ke tanah air.
Sepulang ke Indonesia, Andy bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). ”Orang-orang yang masuk PSI ini sebagian besar awalnya tidak suka politik. Sama kayak saya. Tapi kalau cuma ngeluh, sambat tok, ya sama saja,” selorohnya.
"Kami di PSI tidak bisa menunggu sampai korupsi semakin menghancurkan negeri ini. Kami tidak bisa menunggu Indonesia pecah karena intoleransi. PSI tidak bisa menunggu, dan kami memilih berbuat sesuatu".
Menurut Andy, ada dua problem utama Indonesia: korupsi dan intoleransi. Soal korupsi, selain membuat ekonomi berbiaya mahal, hal paling merusak adalah korupsi membuat orang tidak percaya pada politik. Karena mereka merasa demokrasi dan pemilihan umum hanya menghasilkan pemimpin yang korup.
Di Pakistan dan Afghanistan, situasi itu mendorong orang berpaling pada ide-ide kekerasan dan bergabung dalam Al Qaeda, ISIS. Membuat negara itu terjerumus ke dalam lingkaran kekerasan sektarian yang tak ada habisnya. Menciptakan kesengsaraan dan kemiskinan bagi masyarakat. "Kita tidak ingin seperti itu, politik harus dipulihkan, jangan sampai orang kehilangan harapan pada politik,” tegas alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (UNPAD) tersebut.
Yang kedua adalah masalah intoleransi. Andy memaparkan data yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI). Data tersebut memperlihatkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, intoleransi politik meningkat. ”Ini kan nggak sehat. Jadinya politik identitas. Ini tidak bisa dibiarkan, harus diubah,” cetusnya.
Jalan untuk mengubah paradigma masyarakat itu adalah dengan duduk di kursi parlemen. Bagi Andy, perjuangannya di politik baru saja dimulai. Dia maju sebagai calon legislatif untuk DPR Pusat di Dapil I Surabaya-Sidoarjo.
Andy percaya, warga Surabaya-Sidoarjo rasional. Orang-orangnya terbuka menerima gagasan yang masuk akal.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
