Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Januari 2021 | 02.54 WIB

Akademisi Jelaskan Kaitan Letusan Gunung Api dengan Pemanasan Global

Ilustrasi Gunung Merapi. Aloysius Jarot Nugroho/Antara - Image

Ilustrasi Gunung Merapi. Aloysius Jarot Nugroho/Antara

JawaPos.com–Volkanolog Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman menjelaskan kaitan antara letusan gunung api dengan pemanasan global atau global warming.

”Letusan gunung api dapat menyebabkan pemanasan global (global warming). Hal ini disebabkan karena pada saat gunung api meletus, tidak hanya abu vulkanik yang dikeluarkan, tapi juga kadang-kadang mengeluarkan gas,” kata Mirza Abdurrachman dalam siaran pers Humas ITB seperti dilansir dari Antara, Kamis (21/1).

Mirza menuturkan ada dua yang tipe gas yang secara signifikan dikeluarkan gunung api, yaitu gas CO2 dan SO2. Ketika CO2 keluar terjadi efek rumah kaca. Panas yang masuk ke Bumi tertahan tidak bisa keluar lagi sehingga terjadi global warming.

”Tetapi kalau SO2 yang keluar itu sebaliknya. Gas ini seperti payung jadi panas dari matahari tidak bisa masuk. Letusan Tambora, Toba, dan beberapa gunung api besar yang mengeluarkan SO2, menurunkan temperatur Bumi sampai beberapa tahun kemudian,” ujar Mirzam Abdurrachman.

Lantas bagaimana dengan gunung api di Indonesia? Menurut Mirzam, Indonesia berada di daerah tropis. Pengaruh faktor pemanasan global sangat kecil karena Indonesia tidak punya gunung api yang tertutup es. Akan tetapi, letusan gunung api di Indonesia bisa mempengaruhi pemanasan global ketika gunung-gunung api itu meletus bersamaan dan mengeluarkan gas CO2 secara signifikan.

Pada awal 2021, sejumlah gunung api di Indonesia mengalami kenaikan aktivitas vulkanik. misalnya Gunung Merapi, Semeru, Sinabung, dan lain-lain. Lantas mengapa gunung api tersebut bisa aktif dan meletus, apakah ada pengaruh terhadap pemanasan global?

Menurut Mirzam, terdapat tiga faktor utama mengapa gunung api bisa meletus. Yakni karena kondisi di bawah dapur magma, kondisi di dalam dapur magma, dan kondisi di atas dapur magma atau permukaan gunung.

”Jadi pada prinsipnya gunung api meletus itu terjadi karena ada ketidakstabilan di dalam dapur magma. Karena ketidakstabilan tersebut kemudian dikonversikan menjadi letusan,” terang Mirzam Abdurrachman.

Mirzam menjelaskan, kondisi di bawah dapur magma berkaitan dengan adanya pasokan (supply) magma baru. Selama proses tektonik tersebut bekerja, proses pembentukan pasokan magma baru akan terjadi.

”Akibatnya ketika magma baru itu terbentuk dia bergabung dengan magma yang sudah ada di dalam dapur magma. Nah ketika terjadi kelebihan volume, kelebihannya itu harus dikeluarkan sehingga terjadilah erupsi,” ungkap Mirzam Abdurrachman.

Selanjutnya, yang terjadi di dalam dapur magma berkaitan dengan jumlah magma yang terdapat di dalamnya dan di dalam ruang itu, magma mengkristal karena suhu menurun. Magma yang sudah terkristalisasi lebih berat daripada batuan panas semi cair sehingga akan tenggelam ke dasar ruang magma. Itu mendorong sisa magma ke atas, menambah tekanan pada penutup ruang itu. Sebuah letusan terjadi saat tutupnya tidak lagi mampu menahan tekanan.

”Hal ini juga terjadi dalam sebuah siklus sehingga dapat diprediksi. Yang berat tenggelam dan yang ringan ke atas maka akan terjadi erupsi karena ada tekanan gas ke atas,” kata Mirzam Abdurrachman.

Untuk kondisi di atas permukaan gunung, salah satunya adalah perubahan pasang-surut ketika gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi. Untuk kasus ini, gunung-gunung api di tengah laut ini relatif lebih sensitif karena permukaan air yang naik akan menambah tekanan terhadap gunung api yang berada di tengah laut sehingga apabila gunung apinya berada di titik kritis maka dia akan cenderung batuk-batuk.

”Misalnya Krakatau, Gamalama, Banda Api, dan lain-lain,” ujar Mirzam Abdurrachman.

Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi meletusnya gunung api adalah berkaitan dengan pelelehan es di gunung-gunung api di negara empat musim atau di wilayah kutub. Mirzam mencontohkan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia. Pada 2010 lapisan es di gunung tersebut meleleh karena pemanasan global dan perubahan dari musim dingin ke musim semi. Gunung Eyjafjallajökull setiap tahun esnya mencair sebanyak 11 miliar ton.

”Karena es itu meleleh, bisa dibayangkan gunung api yang tadinya tertutup es sebagai penahan tudungnya, esnya hilang tiba-tiba. Beban yang hilang tersebut membuat kekurangan tekanan yang dapat menyebabkan magma di dalam gunung mudah naik ke atas sehingga gunung api kemudian meletus,” terang Mirzam Abdurrachman.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/G7c-B875H5M

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore