Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 November 2018 | 20.58 WIB

7 Jam Antre di Sungai, Anak Tetangga Mandi Pakai Air Mineral Botol

Warga Desa Purwodadi, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, mengisi ember-ember air untuk persedian air bersih. - Image

Warga Desa Purwodadi, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, mengisi ember-ember air untuk persedian air bersih.

JawaPos.com- Perjuangan warga enam desa di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, ini teramat keras. Selama tujuh bulan terakhir mereka harus berlomba-lomba memburu air bersih. Sumber-sumber mata air tak lagi memancar, sungai-sungai menjelma jadi hamparan jalan setapak.



Dian Ayu Antika Hapsari, Malang



Kamis siang (1/11), terik matahari tak sungkan menyengat. Panasnya menjalar dari ubun-ubun, turun membakar kulit. Buliran keringat bercucuran membasahi pakaian. Badan rasanya lengket semua.


Walaupun udara begitu beringsang, puluhan warga Desa Purwodadi, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang tak lantas goyah. Mereka tetap berdiri kokoh. Caping lebar jadi senjata andalan untuk menangkis panas.


Di depan mereka, beragam wadah air berjajar rapi. Mulai dari jeriken, bak air, kaleng, ember hingga tong besar. Benda-benda itu mengular di sepanjang jalan desa.


Sejurus kemudian, apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Sebuah mobil tangki air berkapasitas 4 ribu liter datang sebagai pahlawan. Mobil itu membawa air bersih.


Ya, setetes harapan warga itu bernama air bersih. Air menjadi kebutuhan yang langka selama tujuh bulan belakangan. Para warga benar-benar terbantu saat anggota Polsek Donomulyo bersama dengan komunitas Donomulyo Trail Community (DTC), datang dengan membawa air bersih. 


Wajah mereka langsung semringah tatkala empat roda mobil itu berhenti. Dengan gembira mereka mengisi wadah-wadah besar dengan air bersih yang dialirkan oleh Kapolsek Donomulyo Kompol Sardikan. Tanpa keributan, tertib, dan saling membantu untuk mendapatkan air. 


Air dari bak besar kemudian mereka pindahkan ke kaleng yang lebih kecil menggunakan gayung. Selanjutnya, diusung ke rumah masing-masing. Kedua tangan mereka penuh dengan ember berisi air bersih. Dengan langkah tertatih, menapak aspal panas, mereka membawa air itu ke rumah.


Ada juga yang memilih untuk mengirit tenaga. Mereka tampak membawa troli. Jadi tak perlu susah-susah memikul air. 


Layaknya barang pecah belah, penduduk desa itu memperlakukan air dengan hati-hati. Seakan-akan dijaga dengan hati. Mereka tak ingin air yang terisi penuh di ember itu tumpah. Air benar-benar mahal pada masa kemarau, seperti sekarang.


"Kami sudah tujuh bulan kekeringan, nggak ada air. Untuk kebutuhan sehari-hari beli air. Satu tangki kapasitas seribu liter harganya sampai Rp 60 ribu," cerita Sulami, 47, salah satu penduduk sembari membetulkan caping lebar yang dia kenakan. 


Sulami menjelaskan, air satu tangki itu hanya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga selama satu minggu. Itupun cuma dipakai untuk mandi dan minum. Kalau mencuci lain cerita. "Cuci baju biasanya ke sungai. Tapi sekarang sungai juga sudah kering," jelasnya. 


Jika tidak ada bantuan air, dirinya terpaksa menghemat kebutuhan air. Misalnya saja dengan mengurangi mandi. Biasanya ketika musim hujan bisa sehari tiga kali. Namun ketika kemarau seperti sekarang, hanya sekali sehari. Itupun jika ada air yang dia anggap cukup. 


"Kalau nggak cukup ya sehari tidak mandi, mau bagaimana lagi. Banyak kebutuhan air yang lebih mendesak. Bahkan ada tetangga yang mandikan anaknya dengan air mineral botol," bebernya.

Editor: Dida Tenola
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore