
LESTARI: Can-macanan kadduk dipentaskan di lapangan Desa Kamal, Arjasa, Kabupaten Jember, saat peresmian paguyuban kesenian pertengahan November lalu. (Dispar Jember for Jawa Pos Radar Jember)
Pada zaman penjajahan Jepang di kawasan Tegalboto, Jember Kota, warga membuat sebuah boneka yang menyerupai macan. Tujuannya, mengusir hewan liar yang ingin memangsa persawahan. Seiring berkembangnya zaman, boneka itu dinamai can-macanan kadduk dan menjadi kesenian tradisi asli Jember.
---
BUDAYA Kota Pandalungan tercermin benar dalam kesenian can-macanan kadduk. Kesenian yang sudah ada 40 tahun lebih lamanya itu mengadaptasi gerakan macan yang disertai iringan gamelan jawa, barongan osing, serta ragam budaya daerah lain.
Gerakan lincah yang disertai alunan gamelan membuat pertunjukan macan yang ditampilkan minimal dua orang tersebut menghibur penonton. Can-macanan kadduk berasal dari bahasa Madura.
Can-macanan berarti macan atau harimau gadungan. Sementara itu, kadduk adalah karung goni. Karung yang disulam dengan tali rafia sehingga menyerupai macan besar yang mengerikan. Bentuk kepala macan terbuat dari kayu yang dihiasi cat minyak dan menggambarkan mimik wajah garang. Satu ekor macan beratnya bisa mencapai 0,5 kuintal.
Konsep pertunjukannya pun ditata. Biasanya, pergelaran itu baru mulai pukul 19.00 dan bisa selesai hingga tengah malam, bergantung permintaan penonton.
Pertunjukan diawali dengan salawatan agar nuansanya tetap islami, baru dilanjutkan pertunjukkan dua orang yang mengenakan pakaian burung garuda. Melambangkan garuda sebagai pemersatu bangsa.
”Setelah itu, penampilan pencak silat satu orang. Karena silat dan can-macanan kadduk tidak bisa dipisahkan,” tutur David Iswanto, pembina sanggar can-macanan kadduk Bintang Timur.
Berikutnya, penampilan empat bocah ganong dan tiga orang dewasa menari-nari. Artinya, para anak kecil itu mencoba ikut melestarikan jati diri budaya yang dimiliki serta sebagai hiburan lawakan khas Jemberan.
”Dilanjut penampilan pencak silat ganda dan tari leak dari Bali serta tari gandrung. Inilah nilai Pandalungannya, ragam budaya menjadi satu dalam sebuah pementasan,” imbuh David.
Barulah atraksi utama tampil. Macan keluar kali pertama berwarna kuning yang disebut kulik dan toltol. Memiliki warna yang bertotol hitam di bagian tubuhnya yang kuning, macan itu menggambarkan watak halus dan lucu. Sementara itu, macan yang berwatak antagonis bernama kumbang. Penonton pun kerap dibuat heboh dengan penampilan macan kumbang yang energik dan ganas. Ditambah, alunan musik gamelan jawa dan seruling. Pertunjukan itu ditampilkan dengan minimal dua dan maksimal lima macan.
Salah satu pesan yang terkandung pada tampilan can-macanan kadduk itu, anak-anak yang suka menangis dan nakal kepada temannya bakal dimangsa si macan kumbang. Pesan itulah yang membuat ibu-ibu mengajak anaknya untuk menonton pertunjukan tersebut sekaligus memberikan pelajaran.
Tradisi Budaya Can-Macanan Kadduk Jember
SEJARAH :
Boneka macan digunakan untuk menjaga sawah dari hewan-hewan liar.
Berkembang sejak zaman penjajahan Jepang di kawasan kampus Unej, yaitu Tegalboto.
Berkembang menjadi salah satu tradisi budaya pertunjukan.
ALUR PEMENTASAN:
Diawali salawatan.
Penampilan dua orang memakai pakaian burung garuda.
Pencak silat satu orang dengan memperagakan seni silat.
Ada tari leak dan gandrung serta kesenian daerah lain.
Pencak ganda dilakukan dua orang, yakni tari dan lawakan bocah ganong.
Penampilan utamanya adalah macan kadduk.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
