Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 April 2019 | 00.51 WIB

Industri Ban Vulkanisir Lebih Menjanjikan

Dialog Publik Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumatera Selatan yang bertemakan meningkatkan penyerapan karet rakyat melalui hilirisasi industry karet domestic di Hotel The Zuri Palembang. (Alwi Alim/JawaPos.com) - Image

Dialog Publik Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumatera Selatan yang bertemakan meningkatkan penyerapan karet rakyat melalui hilirisasi industry karet domestic di Hotel The Zuri Palembang. (Alwi Alim/JawaPos.com)

JawaPos.com – Wacana menghadirkan industri ban baru di Sumatera Selatan (Sumsel) dinilai bakal tidak optimal. Pasalnya, investasi yang harus dikeluarkan sangat tinggi dan harga ban baru pun mahal. Karena itu, industri ban vulkanisir dianggap lebih menjanjikan.

Hal ini terungkap dalam kegiatan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Sumatera Selatan yang bertemakan meningkatkan penyerapan karet rakyat melalui hilirisasi industri karet domestik di Hotel The Zuri Palembang, Kamis (11/4).

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, A Aziz Pane mengatakan, selama ini Indonesia hanya dijadikan pasar oleh dunia. Bahkan, sarung tangan, latex nya pun masih impor. Karena itu, pengembangan industri ban bisa dilakukan. Di Palembang sendiri pabrik ban milik negara pernah ada hingga tahun 1989 dijual, sekarang yang masih eksis yakni di Medan dan Jawa Barat bahkan hingga ke luar negeri.

Menurutnya, produksi yang dihasilkan sudah bagus. Hanya saja, standar kualitas dibuat harus disesuaikan dengan jalan yang ada. Meskipun begitu, ia mengaku untuk di Sumsel khususnya di Palembang yang sangat berpeluang untuk menjadi hilirisasi yakni ban vulkanisir.

“Ban vulkanisir ini sangat berpeluang, ban bekas yang diperbarui telapaknya. Ban ini bisa dua hingga tiga kali di daur ulang,” katanya.

Saat ini, pabrik ban di dunia juga sedang terancam. Itu dikarenakan protes negara pemakai ban akibat efek samping dari ban bekas yang tidak bisa dihancurkan. Contohnya, di Kalimantan ban bekas yang ditanam bisa merusak struktur tanah.

“Terlebih lagi investasi untuk membangun pabrik ban ini sangat besar,” ujarnya.

Kelebihan utama ban vulkanisir, yakni relative murah dibandingkan harga ban yang baru. Apalagi, jumlah truk pengangkut karet yakni berskisar 400 unit yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Sumsel. belum lagi truk pengangkut batubara, pengangkut pupuk dan lain sebagainya sehingga potensi ini sangat besar untuk industry ban vulkanisir.

“Kalau Asosiasi UPPB kabupaten bisa dijadikan IKM ban vulkanisir, maka setiap sentra karet bisa melayani truk untuk menyediakan ban vulkanisir ini. Tentunya, penyerapan karet rakyat pun akan bertambah untuk industry hilir,” tutupnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Yunita Resmi Sari mengatakan, komoditi karet memiliki kontribusi pada PDRB ekonomi di Sumsel. Karena, mampu menyerap tenaga kerja, berkontribusi terhadap ekspor dan berkorelasi terhadap program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.

Karena itu, bagaimana caranya untuk menambah nilai tambah terhadap komoditi karet. Salah satu upayanya yakni mendirikan industry hilir sehingga timbul permintaan terhadap karet rakyat dan mendongkrak harga karet.

“Banyak potensi hilir yang dapat dibangun. Namun, harus ditentukan mana yang cocok dan jangan hanya fokus hanya satu alternative saja,” katanya.

Dirinya belum dapat menghitung potensi kenaikan harga karet dengan adanya industry hilirisasi. Namun, semuanya bergantung pada industry hilirisasi itu sendiri. Namun, pada intinya mendirikan hilir ini dalam rangka meningkatkan penyerapan karet rakyat sehingga dapat meningkatkan harga karet.

“Semakin banyak karet terserap maka harga pun dapat meningkat,” tutupnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore