Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Maret 2019 | 22.55 WIB

Pembuat Ogoh-ogoh di Karangtengah Kian Menurun

Pembuatan ogoh-ogoh di Desa Karangtengah, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. - Image

Pembuatan ogoh-ogoh di Desa Karangtengah, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

JawaPos.com - 50 Persen warga Desa Karangtengah, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), merupakan pemeluk agama hindu. Kini, mereka bersiap menggelar upacara Tawur Agung Kesanga. Ritual dijadwalkan berlangsung Rabu (6/3).


Pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga digelar sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 yang jatuh pada Kamis (7/3). Biasanya, upacara akan diwarnai dengan pawai dan pembakaran ogoh-ogoh.


Untuk itu, umat Hindu di Karangtengah sudah jauh-jauh hari membuat ogoh-ogoh. Seperti yang dilakukan Arif Budi. Selama satu bulan belakangan, pria berusia 32 tahun itu disibukkan dengan pembuatan ogoh-ogoh di halaman rumahnya.


Ogoh-ogoh sendiri merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan Bhu (alam semesta) dan Kala (waktu) yang tak terukur dan tak terbantahkan.


Arif mengatakan, ada beberapa macam ogoh-ogoh yang dibuat. Salah satunya berbentuk Kumbakarna dan burung Bakasura. "Ogoh-ogoh ini melambangkan makhluk jahat," ujarnya saat ditemui JawaPos.com, Selasa (5/3).


Ogoh-ogoh terbuat dari beberapa bahan. Seperti bambu, styrofoam, semen putih, dan rokat (gip). Selanjutnya, ogoh-ogoh akan dibakar pada Sembayangan pemercikan.


Menurut Arif, sebenarnya tidak terlalu susah untuk membuat ogoh-ogoh. Tapi ada beberapa kendala yang dihadapi. Seperti cuaca yang mempengaruhi lama tidaknya pembuatan ogoh-ogoh. Sebab bila cuaca tidak mendukung, ogoh-ogoh susah untuk kering.


Kemudian beberapa bahan yang sulit dicari. "Yang sulit dicari aksesoris seperti kumis dan siung (taring)," kata pria yang sudah membuat ogoh-ogoh selama tiga tahun belakangan itu.


Bapak dua anak itu mengungkapkan, jumlah ogoh-ogoh yang dibakar pada ritual Tawur Agung mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu ada 30 ogoh-ogoh. Sekarang hanya 20 ogoh-ogoh. Penurunan tersebut dikarenakan semakin sedikit yang membuat ogoh-ogoh. "Banyak yang bekerja di luar (kota)," imbuhnya.


Selain membuat untuk diri sendiri, Arif juga menerima pesanan pembuatan ogoh-ogoh. Biasanya, dia mematok harga mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. "Biasanya dapat pesanan dari anggota dusun lain," pungkasnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore