Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Februari 2019 | 17.29 WIB

Eksistensi Suku Hokkian di Kota Malang

Ketua Suku Hokkian di Kota Malang Bonsu Anton Triyono. - Image

Ketua Suku Hokkian di Kota Malang Bonsu Anton Triyono.

JawaPos.com- Etnis Tionghoa memiliki beragam suku. Salah satu yang eksis di Kota Malang adalah Hokkian. Suku ini identik dengan bisnis onderdil kendaraan dan tekstil.


Ketua Suku Hokkian di Kota Malang Bonsu Anton Triyono menerangkan, keberadaan suku Hokkian di Kota Malang hingga saat ini cukup banyak. Hokkian sudah ada sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu.


"Jumlahnya ribuan dan masih ada di Malang,” terangnya kepada JawaPos.com, kemarin (4/2).


Anton menceritakan, etnis Tionghoa diperkirakan memasuki wilayah Malang Raya sekitar abad ke-15. Hal itu ditandai dengan adanya Kampung Marguan yang terletak di kawasan Gunung Kawi. Kemudian mereka menyebar ke seluruh wilayah Malang Raya.


Selanjutnya pada 1916, pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kuasa di kawasan Pecinan yang ada di Kota Malang.


"Awalnya mereka berencana memindahkan pasar ke Jalan Kahuripan (saat ini menjadi pasar bunga, Red). Namun, warga Tionghoa di Pecinan menolak. Sehingga mereka membantu dana pembangunan pasar dengan syarat, tempat berjualannya tidak pindah," ceritanya.


Kemudian pada 1920, Pasar Besar Malang mulai dibangun di daerah Pecinan. Pembangunan itu memakan waktu sekitar empat tahun, hinga 1924. Saat diresmikan, tempat itu menjadi pasar induk pertama yang dimiliki pemerintah Belanda di Malang.


Saat pertama kali berdiri, pasar itu terdiri dari 20 stan. Mulai dari toko kelontong, sayur dan buah, daging dan ikan, hingga pakaian. Sampai saat ini, kawasan Pecinan tersebut semakin meluas dan semakin berkembang.


“Masih banyak masyarakat Tionghoa yang tinggal di Pecinan. Mereka masih aktif berdagang dan melakukan segala profesi,” kata Anton.


Namun, Anton mengakui bahwa saat ini kawasan Pecinan yang ada di daerah Pasar Besar Malang memang sedikit mengalami perubahan. Menurutnya, hal itu merupakan sesuatu yang wajar.


"Itulah zaman. Makanya saya imbau agar di dalam zaman yang sudah demokrasi ini, tidak mempermasalahkan kedatangan etnis kami," tuturnya.


Bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek ini, Anton meminta seluruh masyarakat agar hidup damai dan tentram hingga akhir zaman. “Banggalah menjadi warga NKRI, jangan pernah membedakan suku dan etnis, jangan pernah dipermasalahkan. Jadikan tradisi budaya dan kultur sebagai bentuk kebersatuan. Sehingga bisa rukun dan sentosa,” tutup Anton.

Editor: Dida Tenola
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore