
Warsem memegang foto anaknya, Nurhidayati, yang meninggal dunia di Singapura.
JawaPos.com - Nurhidayati binti Wartono Surata, 34, TKI di Singapura mengalami nasib tragis. Warg asal Blok Gandok, Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, itu tewas dibunuh di Singapura.
Orang tua korban pasrah atas kejadian tersebut dan berharap ada keadilan bagi anaknya. Jenazah korban telah dipulangkan ke kampung halaman pada Kamis sore (3/12) disambut dengan isak tangis oleh keluarga maupun para tetangga.
Tak terkecuali ibu korban, Warsem, 53, dan anak semata wayang korban, Wisnu Prayogi, 11. Warsem mengaku menerima kabar kematian anaknya itu dari staf KBRI Singapura, yang menghubunginya pada Senin (31/12) sekitar pukul 15.30 WIB.
Dia mengaku, belum mengetahui secara pasti penyebab kematian anaknya. “Saya kaget saat menerima telepon dari seorang wanita, katanya dari kedutaan di Singapura dan mengabarkan kalau anak saya meninggal. Padahal pada hari Minggu (30/12) siang, anak saya itu baru saja telepon,” kata Warsem kepada Radar Cirebon (Jawa Pos Group).
Saat menelepon itu, Nurhidayati mengaku sehat dan dalam kondisi baik. Dia pun menanyakan kabar keluarga di kampung dan sempat mengobrol serta bercanda bersama anak semata wayangnya, Wisnu Prayogi.
Dikatakan Warsem, siang itu Nurhidayati langsung mengakhiri telepon dengan alasan ada urusan, dan berjanji akan segera menelepon kembali di malam harinya. Namun, telepon dari Nurhidayati tak kunjung datang, hingga akhirnya muncul kabar duka.
“Malam itu saya yang menelepon, tapi HP-nya tidak diangkat terus. Hingga akhirnya pada hari Senin sore ada kabar dari KBRI,” ungkap Wasem dengan mimik sedih.
Warsem mengatakan, Nurhidayati memilih menjadi TKI setelah bercerai dari suaminya. Pasalnya, dia harus membiayai anak semata wayangnya yang saat itu masih balita. Nurhidayati awalnya menjadi TKI ke Arab Saudi selama dua tahun. Setelah itu, memutuskan menjadi TKI ke Singapura pada 2013 lalu. Saat itu, dia bekerja selama tiga tahun dan kembali ke kampung halamannya setelah habis masa kontraknya.
Setelah itu, Nurhidayati kembali berangkat ke Singapura melalui PT Ceger Sari Buana dan bekerja di majikan yang berbeda. Di majikan tersebut, dia bekerja selama empat tahun. Semestinya, masa kontraknya berakhir pada Desember 2018.
“Nurhidayati harusnya pulang Desember kemarin. Tapi karena tidak punya uang, dia minta ke majikannya agar kontraknya diperpanjang sampai bulan delapan (Agustus 2019, red),” kata Warsem.
Warsem menambahkan, selama ini Nurhidayati juga rutin mengirim uang setiap bulan untuk keperluan anaknya. Dia pun rajin berkirim kabar terutama untuk mengetahui perkembangan anaknya.
Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Indramayu Juwarih, menjelaskan, berdasarkan informasi dari KBRI Singapura, korban meninggal akibat dibunuh pada 30 Desember 2018 pukul 22.40 waktu Singapura.
Atas kasus tersebut, polisi setempat telah menangkap seorang laki-laki asal Bangladesh, AS (30), yang diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
