
MEMBELUDAK: Pasien keracunan makanan nasi bungkus mendapat perawatan di RSUD Mangusada Sabtu (25/3)
JawaPos.com –Sedikitnya 62 orang terpaksa dilarikan ke RS Mangusada, Kapal, Badung. Menyusul terjadinya keracunan massal usai menyantap nasi yasa (makanan khas berupa nasi kuning, yang dicampur daging ayam, lalapan, telur, dan sayur kelapa parut dengan berbagai macam bumbu dan digoreng kering)), usai upacara Melasti, Sabtu (25/3). Mereka yang dilarikan ke rumah sakit berasal dari Banjar Tambak Sari dan Muncan, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Badung.
Menurut informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, tanda-tanda keracunan massal yang dialami pemedek mulai terasa dalam perjalanan pulang dari prosesi Melasti di Pantai Seseh, Munggu, Mengwi, Badung. Pukul 12.00 dalam perjalanan kembali ke Desa Kapal dengan berjalan kaki, beberapa warga mengeluh sakit perut dan mual.
Puncaknya pukul 15.00 warga yang mengeluh bertambah banyak hingga dirujuk ke RS Mangusada, Kapal. Sebelumnya, pukul 07.00 warga banjar berkumpul di Pura Dalem Selonding, Desa Kapal berangkat ke Pantai Seseh sejam kemudian. Rombongan krama banjar yang mengusung jempana atau linggih stana Ida Bhatara-Bhatari itu tiba di Pantai Seseh pukul 11.00. Musibah dimulai sekitar pukul 11.30 saat peserta Melasti menikmati hidangan makan siang yang disiapkan oleh krama Banjar Tambak Sari. Diketahui nasi bungkus yang dibuat di Pura Dalem Selonding untuk dibagikan kepada krama banjar berjumlah 180 buah.
Catatan Jawa Pos Radar Bali, ada sekitar 61 warga kedua banjar yang harus dilarikan ke RSUD Mangusada, Kapal dan 1 orang lagi harus dirawat di puskesmas Mengwi. Total 62 orang keracunan nasi bungkus dan masih mendapat perawatan pertolongan pertama di rumah sakit dan puskemas yang ada di Badung. Pengakuan korban Gilang Surianta, 20, makanan yang dia makan bukan dari hasil membeli. Karena banjar yang membuat nasi bungkus itu.
Waktu itu 180 nasi bungkus dibagikan saat acara Melasti berlangsung. Setelah beberapa jam usai mengonsumsi nasi bungkus, mulai mucul gejala seperti mual, muntah-muntah dan pusing. Hingga muncul mencret seperti gejala diare. “Itu tidak hanya terjadi pada saya, tetapi juga warga lainnya,” ungkap pria asal Banjar Tambak Sari.
Menurutnya, reaksinya tidak kurang satu jam. Tapi, ada juga yang langsung beraksi. Ketika dikonsumsi nasi tidak terasa basi. Bahkan ayam, telur, kacang, saur, sayur dan sambal pun tidak basi saat dimakan. “Saya menduga saos dan mie yang dimakan kedaluwarsa. Mungkin itu yang membuat keracunan. Karena mie yang dimakan sudah bercampur saos, jadi warnanya jadi merah,” ujarnya saat ditemui di ruang IGD RSUD Mangusada. Korban lainnya, Nyoman Juliarta, 31, mengungkapkan, makanan yang dikonsumsi tidak ada berisi daging babi. Makanan nasi bungkus memang langsung disediakan oleh pihak panitia yang ada di pura. “Namun, untuk kebersihan makanan saya tidak tahu pasti,” ucap pria asal Banjar Muncan.
Untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya keracunan, Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Kepala Bidang Pelayanan RSUD Kapal dr. Made Nurija menuturkan, korban tiba di RSUD sekitar pukul 14.00. Awalnya empat warga yang datang. Semakin sore, pasien baru terus berdatangan. Untuk di RSUD Mangusada sendiri ada sekitar 61 warga kedua banjar yang dirawat. Sisanya dirawat di Puskemas. Sebagian sudah ada yang diperbolehkan pulang. Tercatat, ada 9 anak yang keracunan, sisanya orang dewasa. Tim medis langsung memeriksa kondisi pasien.
Termasuk mengambil sampel darah untuk dilakukan uji laboratorium. Untuk pasien, tim medis memberikan pasien, obat penawar racun, dan perawatan lainnya. “Berdasar tanda- tandanya, mereka mengalami keracunan makanan. Untuk kepastiannya, kami sedang cek nasi bungkusnya, apakah sudah bersih dan steril. Untuk hasilnya belum bisa dipastikan,” tandasnya.
Kepala Dinkes Badung dr Gede Putra Suteja menyebut, nasi yasa yang dimasak krama Banjar Tambak Sari berupa nasi bungkus dengan lauk ayam sisit, mi goreng, telur rebus, dan sambal. “Yang masak panitia Pura Banjar Tambak Sari. Dimasak di Pura Dalem Selonding pukul 05.00 pagi. Dibawa ke Pantai Seseh. Dimakan pukul 11.00 siang,” jelas dr Gede Putra Suteja. Imbuhnya, gejala sakit serius dialami warga sekitar pukul 15.00. “Dengan gejala langsung muntah-muntah, pusing, dan lemas.
Saat ini kurang lebih dirawat di RS Kapal 61 orang. Semua pasien dalam keadaan stabil,” tandasnya sembari menyebut selang beberapa jam dirawat 30 pasien sudah diizinkan lepas infus. “Sampel makanan sudah disimpan oleh Made Jaya, staf Dinkes untuk diperiksa di laboratorium,” sambungnya.(uli/ken/dre/mus/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
