
Esah memperlihatkan foto ayahnya yang menghilang sejak Minggu pagi. Hingga sekarang warga bersama kepolisian masih melakukan pencarian.
JawaPos.com - Kabar hilangnya Ismail, 77, membuat geger warga Jalan Temenggung Dua Penyadap, Dusun Penanjung, Desa Munggguk, Sekadau Hilir. Kakek yang memiliki 15 cucu itu pergi ke kebunnya di daerah Senara, Kawasan Jalan Mungguk-Tanjung sejak Minggu pagi (21/5) hingga sekarang belum kembali.
“Bapak saya itu perginya sejak hari Minggu pagi sekitar pukul 07.00,” ucap Esah, 38, salah seorang anak korban kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group) di kediaman orang tuannya, Senin siang (22/5).
Anak bungsu Ismail itu mengaku tidak melihat langsung ayahnya meninggalkan rumah. Terlebih di rumah tua berdinding papan tersebut, Ismail tinggal sendirian.
Sementara Esah tinggal terpisah dari Ismail. Esah tinggal bersama suaminya di Jalan Tanjung-Penanjung yang dibatasi Sungai Sekadau dengan rumah korban. “Ada warga yang lihat bapak saya pergi ke kebun,” kata Esah lagi.
Kebun milik Ismail memang masih satu daratan dengan rumah Esah. Tapi jalannya tidak melintasi persis rumah anaknya tersebut. “Lagian ayah juga tidak ada singgah ke rumah. Biasanya dia sering main tempat saya. Tapi hari itu tidak ada ke rumah,” tambah Esah.
Ismail diduga pergi ke kebun karet miliknya sendirian. Ia menyeberangi Sungai Sekadau menggunakan sampan. Sebab sampan miliknya ada tertambat di seberang sungai di jalan arah ke kebunnya. “Kami sudah cek, sampannya ada. Tapi dianya tidak ada,” tutur Esah.
Ismail hidup sebatang kara. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Sementara anaknya tinggal di rumah terpisah. Selain Esah, Ismail juga memiliki tiga anak lainnya, yakni Enon, Abaspor dan Saparudin. Dari keempat anaknya inilah, Ismail sudah dikaruniai 15 cucu.
“Dari keterangan warga yang melihat, bapak saya itu pergi dengan menggunakan batik dan celana pendek warna putih. Ia juga ada membawa parang dan tangkin (tas kerja) serta membawa bekal nasi,” kata Saparudin.
Menurut pria 41 tahun itu, pendengaran maupun penglihatan bapaknya sudah tidak awas lagi. “Bapak pun sudah lebih tiga tahun tidak pernah pergi ke kebun lagi,” sambungnya.
Baik Esah maupun Saparudin mengaku, selama ini hubungan mereka dengan ayahnya baik-baik saja. “Kami masih melakukan pencarian,” ujar Saparudin.
Kepala Desa Mungguk, Agustami membenarkan ada warganya yang hilang. “Bahkan kami sudah membuat laporan ke polisi. Dari tadi malam hingga siang ini, ratusan warga dan polisi sudah ikut membantu mencari,” ujar Agustami. (bdu/fab/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
