Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2017 | 15.28 WIB

Demi Air Bersih Warga Rela Cari Lubang Sejauh 200 Meter

Sri Suwarni, 53, mengambil air bersih di cerukan air sungai yang telah mengering di Desa Jerukan,Juwangi,Boyolali, Kamis (20/7) - Image

Sri Suwarni, 53, mengambil air bersih di cerukan air sungai yang telah mengering di Desa Jerukan,Juwangi,Boyolali, Kamis (20/7)

JawaPos.com - Musim kering yang melanda Boyolali membuat warga di 44 desa kesulitan mencari sumber air bersih. Mereka harus memanfaatkan lubang-lubang kecil di pinggir sungai sebagai sumber air bersih. Sebab air di lubang dianggap telah mengalami penyaringan secara alami.


Kendi dari tanah digendong Sri Suwarni dengan menggunakan jarit hitam motif garis-garis. Tangan kanannya memegang gayung plastik. Di bawah terik sinar matahari, warga Desa Jerukan, Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, itu menuju tepi sungai berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.


Tiba di lokasi, perempuan 53 tahun tersebut melepas gendongan kendi dan meletakkannya pelan-pelan agar tak membentur bebatuan yang tersebar di pinggir sungai. Lalu, dia duduk berjongkok di hadapan lubang berdiameter sekitar 40 sentimeter berisi air cukup jernih.


Perlahan, gayung plastik dimasukkan ke lubang untuk mengambil air dan diisikan ke dalam kendi. Beberapa kali dia menciduk, kendi sudah penuh air. "Ini untuk air minum dan kebutuhan sehari-hari," ujar Suwarni kemarin.


Menurut dia, tidak semua warga yang memanfaatkan air dari lubang di sekitar sungai yang mulai mengering tersebut. Rutinitas itu hanya dilakukan mereka yang tidak mampu memasang saluran air bersih PDAM karena terkendala biaya.


Sementara itu, air di sumur manual terus mengering seiring menurunya volume hujan. "Kalau hujan, air sungai melimpah. Tapi tidak lama terus mengering lagi," kata Suwarni.


Lubang sekitar bibir sungai memang sengaja dibuat warga. Tujuannya, air yang masuk ke lubang lebih bersih karena sudah tersaring secara alami oleh tanah dan bebatuan.


Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Desa Jerukan menjadi salah satu di antara 44 desa rawan kekeringan. Adapun kecamatan lain dengan ancaman serupa, yakni Kemusu, Wonosegoro, Karanggede, Andong, dan Musuk.


Di wilayah Kecamatan Musuk, terdapat 13 desa yang rawan kekeringan, Wonosegoro 13 desa, Kemusu 5 desa, Andong 6 desa, Karanggede 2 desa, dan Juwangi 5 desa.


Tahun lalu, untuk mengurangi dampak kekeringan, BPBD Boyolali menyiapkan sejumlah truk tangki air bersih yang disebar ke beberapa daerah rawan kekeringan. Hal serupa dilakukan BPBD Klaten. Mereka mulai melakukan pengecekan armada dan kelengkapan lainnya. Salah satunya, pompa air.


Kepala BPBD Klaten Bambang Giyanto menuturkan, pihaknya memiliki enam truk tangki air dengan kapasitas masing-masing armada sekitar 8.000 liter dan satu unit berkapasitas 5.000 liter. "Kami juga menyiapkan anggaran penanggulangan kekeringan Rp 100 juta. Jika masih kurang, bisa dimintakan dari dana tak terduga," terang Bambang.


Sementara itu, untuk wilayah rawan kekeringan di Klaten, Bambang menyebutkan Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Jatinom, dan Karangnongko. Di lokasi itu tidak tersedia sumber mata air. Untuk cadangan air bersih, warga sekitar mengandalkan air hujan yang disimpan dalam tandon bak permanen.


Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten Budi Prasetya menjelaskan, distribusi air bersih ke daerah rawan kekeringan tidak menyelesaikan masalah. Dibutuhkan solusi permanen. Di antaranya, mencari sumber mata air baru.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore