Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Maret 2017 | 18.52 WIB

Mahasiswi Akper Demo: Digantung Sakit Pak Bu

Meski hujan mengguyur, mahasiswa tetap berorasi dan membentangkan spanduk. Suasana kampus Akademi Keperawatan (Akper) - Image

Meski hujan mengguyur, mahasiswa tetap berorasi dan membentangkan spanduk. Suasana kampus Akademi Keperawatan (Akper)

JawaPos.com - Ratusan mahasiswa Akademi Keperawatan (Akper) Pemkot Tegal kembali melakukan aksi demonstrasi di depan Balai Kota Tegal, Selasa (14/3). Mereka mendesak Wali Kota Tegal Siti Masitha segera menandatangani surat merger ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sehingga, kampus Akper tidak perlu ditutup.

“Kami mendesak wali kota, agar secepatnya mengirim surat ke Kemenkes, karena deadline-nya sudah sangat mepet,” kata Koordinator Aksi Imam Fatkhu Rizky.

Mahasiswa meyakini, apabila Akper bisa terus berdiri sebagai kampus yang melahirkan perawat-perawat handal, maka dapat turut berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan. Imam tidak bisa membayangkan jika Akper yang kini memiliki ratusan mahasiswa, pada akhirnya tutup.

“Tentu kami sangat kecewa, dan boleh jadi tingkat kesehatan di kota ini akan menurun. Sebab, sudah sejak dulu lulusan Akper banyak mengabdikan dirinya di Kota Tegal dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Dalam aksinya, mahasiswa membentangkan sejumlah spanduk yang bertuliskan permintaan merger ke Kemenkes. Mereka juga membawa puluhan pamflet dengan isi tulisan yang beragam, misalnya seperti ‘Jangan Gantungkan Masa Depan Kami’, ‘Digantung Sakit Pak Bu’, ‘Bunda Jika Sayang Kami Mergerkan Kami ke Kemenkes’, dan lainnya.

Di bawah terik matahari di depan Balai Kota, mahasiswa sempat melakukan aksi yang mengundang perhatian. Mereka rela tidur dan menyungkurkan diri di aspal, sebagai isyarat keseriusan permohonan supaya merger ke Kemenkes dapat dikabulkan. “Merger bagi kami harga mati. Kami berharap dukungan semua pihak,” ujar Imam lagi.

Aksi mahasiswa dijaga petugas kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Ketua Ikatan Keluarga Mahasiswa Akper Sri Fajar Anggraeni bersama sejumlah rekannya sempat berdialog dengan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Yusmana untuk meminta bertemu Plt Direktur Akper Wiharto. “Pak Wiharto susah ditemui, kami ingin menglarifikasi surat merger,” kata Sri.

Di depan mahasiswa berhijab itu, Yusmana lalu memutuskan menelepon Wiharto. Dari telepon selulernya diketahui yang bersangkutan sedang ada acara. Yusmana lalu menyampaikan Plt Kepala Dinkes Suharjo bersedia menemui di kampus. Namun karena tidak kunjung ditemui di Balai Kota, mahasiswa lebih memilih bergerak ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal.

Sri menegaskan, seluruh mahasiswa Akper memutuskan mogok kuliah, sejak Jumat lalu. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa mengaku tidak konsen belajar di kampus. Sri dan mahasiswa lainnya akan terus memperjuangkan agar Akper dimerger ke Kemenkes dan terhindar dari penutupan. Mahasiswa menyatakan bakal mengadakan aksi yang lebih besar lagi. (nam/ela/yuz/JPG)

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore