
Buaya muara berukuran tiga meter yang ditangkap di Sungai Pinang Dalam Gang Borneo Etam, Desa Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Utara.
JawaPos.com - Penanganan pemerintah maupun instansi terkait dinilai lambat. Akibatnya, buaya muara yang ditangkap di Sungai Pinang Dalam Gang Borneo Etam, Desa Sangatta Utara, Kecamatan Sangatta Utara dikonsumsi warga.
Hal ini diungkapkan salah seorang warga yang namanya enggan disebutkan. Dirinya mengaku menyaksikan sendiri jika buaya tersebut dipotong warga. Hanya saja bukan warga setempat. Melainkan warga dari luar. Hal ini diketahuinya saat dirinya tak sengaja melintasi gang tersebut.
“Buaya itu sudah dipotong-potong dagingnya. Sudah dibagi-bagi kepada orang-orang yang kumpul di situ. Tetapi yang kumpul bukan warga di situ, melainkan warga dari luar. Karena semua warga yang ada saya tidak kenal,” ujarnya.
Ia memperkirakan pembagian daging berdarah dingin itu sekira pukul 24.00 wita dini hari. Antara pukul 21.30 wita hingga 22.00 wita juga sudah terlihat kendaraan roda dua memadati lokasi penempatan buaya betina tersebut.
“Kejadian pada malam itu (9/5). Biar tahu pagi-pagi ke sana aja (Gang Borneo). Kalau bisa cek aja langsung. Masih ada bau-baunya. Karena daging, usus langsung dimasukkan ke karung,” katanya.
Hal ini diaminkan oleh Udin-bukan nama sebenarnya. Dia melihat banyak warga berkerumun di areal buaya tiga meter tersebut. Hanya saja, dia enggan berkomentar jauh aktivitas apa yang dilakukan warga dari luar Gang Borneo itu. Yang jelas ada perkumpulan sekira pukul 24.00 wita.
“Kalau jam 20.00 wita atau 21.00 wita, masih sedikit saja (orang). Pas jam 24.00 wita lebih baru banyak. Saya tau karena rumah saya dekat dengan buaya itu. Saya lihat banyak motor. Tetapi mau ngapain, saya enggak tau. Nah pas pagi saya kaget karena buayanya sudah tidak ada lagi kemana,” katanya.
Sementara itu, HM yang juga warga setempat mengaku tidak mengetahui keberadaan buaya tersebut. Pasalnya, ia tengah bekerja. Namun setahui sejak pagi hingga malam hari buaya itu masih terlihat. “Saya tidak tahu juga kemana buayanya. Karena saya bekerja. Tetapi kalau malam kemarin masih ada. Baru tadi pagi (kemarin pagi) saya lihat tidak ada. Tidak tau kemana buayanya,” kata HM.
Sementara itu, Oktavius (45), warga yang berhasil menangkap buaya muara tersebut membantah jika predator berdarah dingin itu dikonsumsi warga. Dirinya mengaku buaya yang ditangkap di Sungai Pinang Dalam tersebut dibawa ke Samarinda oleh temannya.
Diperkirakan buaya diangkut menggunakan kendaraan terbuka sekira Pukul 22.30 wita, Selasa (9/5) kemarin. Sedikitnya tujuh orang yang mengakut buaya tersebut. Setelah berhasil langsung dilarikan ke Samarinda. “Jadi buaya dilarikan ke Samarinda. Tadi malam sekitar pukul 22.30 wita. Mereka membawanya menggunakan truk. Dengan begitu buaya bisa dibawa dengan mudah,” ujar Oktavius.
Hanya saja dirinya tidak mengetahui pasti buaya tersebut akan diapakan. Kemungkinan besar dipelihara oleh keluarganya tersebut. Pasalnya, orang yang mengambil buaya itu juga memiliki peliharaan yang sama.
“Kalau tempat pastinya saya tidak tahu mau dibawa kemana. Yang jelas ke Samarinda. Kalau tujuannya membawa, katanya sih mau dipelihara. Karena dia ada pelihara gitu juga,” katanya.
Langkah ini diambil untuk menyelamatkan sang buaya. Sebab sejak ditangkap hingga saat ini tak kunjung mendapatkan perhatian. Tak satupun yang bersedia bertanggung jawab. Hanya warga yang memberikan perhatian kepada buaya tersebut. Di antaranya melakukan penyiraman.
“Teman saya itu tanya lewat telpon, masih adakah buayanya? Saya bilang masih ada. Lalu dia bilang kasihan juga karena sudah berapa hari hanya di darat. Makanya mau diambil. Karena memang buayanya itu kasihan tidak makan dan tubuh dalam keadaan terikat. Ya saya suruh saja ambil,” katanya.
Sebelumnya warga mempertanyakan kepedulian pemerintah dan instansi terkait lainnya terhadap perlindungan kepada buaya. Pasalnya buaya tersebut sudah ditangkap oleh warga sejak Minggu (7/5) lalu. Namun tak kunjung mendapatkan perhatian. Bahkan terkesan lempar tanggung jawab. Semua melimpahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
