Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2017 | 01.48 WIB

Sekolah Dimerger, Gedung SD Mangkrak

MANGKRAK: Gedung SDN Kebondalem 2 Bareng, Jombang, hingga kini mengkrak. - Image

MANGKRAK: Gedung SDN Kebondalem 2 Bareng, Jombang, hingga kini mengkrak.


JawaPos.com- Gedung SDN Kebondalem 2 di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, membutuhkan perhatian serius. Gedung tersebut dibiarkan mangkrak selama empat tahun ini. Itu terjadi setelah sekolah tersebut dimerger lantaran selalu kekurangan murid.



Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Jombang,sekolah tersebut memiliki tujuh ruangan. Ada lima ruangan yang biasa dipakai untuk kegiatan belajar-mengajar (KBM). Satu ruangan lagi dipakai sebagai ruang guru. Ditambah, ada fasilitas musala di sudut kiri sekolah.



Saat ini kondisi sekolah itu kian memprihatinkan. Bagian atap maupun ruang kelas sudah lapuk dan hampir roboh. Dikhawatirkan, jika terjadi hujan disertai angin kencang, bagian tersebut akan ambruk.



Dari data yang dihimpun, sejak sekolah itu dimerger alias digabung dengan SDN Kebondalem 1, seluruh perlengkapan kantor dan kelas ikut diangkut. Jadi, ruangan SDN Kebondalem 2 telah kosong. Begitu pula guru yang dulunya mengajar di SDN Kebondalem 2.



”Sekolah ini sudah tidak terpakai lagi. Hanya biasa digunakan anak desa sini untuk bermain,” celetuk Totok. Bukan hanya itu, dia menyebutkan bahwa orang di desa setempat kurang begitu berminat untuk menyekolahkan anaknya di sana. ”Kurang tahu alasannya. Cuma, semakin tahun muridnya terus berkurang,” tambahnya.



Nah, salah satu faktor yang membuat sekolah tersebut dimerger adalah sepinya peminat. Jumlah siswa-siswi yang mendaftar di sekolah itu terus berkurang setiap tahun. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah tersebut memiliki banyak murid dari berbagai dusun. ”Misalnya, alumni angkatan saya, pada 2006, masih lumayan banyak. Sekitar 30 siswa dan itu pun hanya kelas VI,” ujar Nisa, salah seorang alumnus.



Apalagi, di dusun setempat saat itu jumlah SD-nya, hanya ada lima, 3 SD dan 2 madrasah ibtidaiyah (MI). Namun, keberadaan MI ternyata cukup diminati hingga sekarang. ”Hal itulah yang mengakibatkan siswa-siswi di SDN lambat laun semakin sedikit dan tidak seimbang,” tuturnya. (ang/nk/c24/end)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore