
Petani Curuluk di Desa Pasir Munjul Kecamatan Sukatani
JawaPos.com - Bulan Ramadan membawa berkah bagi petani sekaligus pengolah kolang-kaling. Tak terkecuali di Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Pasalnya, omset mereka meningkat dibanding bulan-bulan lain.
Buah kolang-koling atau biasa juga disebut curuluk berasal dari olahan pohon aren sangat digemari masyarakat. Sebab, buah itu biasanya dijadikan hidangan minuman saat berbuka.
“Alhamdulilah banyak yang memesan kolang-kaling,” kata Junaedi (45) salah seorang petani buah curuluk, dilansir Pasundan Ekspres (Jawa Pos Grup), Rabu (7/6).
Ia mengatakan, selain menerima pesanan dari masyarakat setempat, buah kolang-kaling miliknya juga banyak diburu pembeli dari luar kabupaten dengan jumlah cukup banyak.
Untuk harga sendiri biasanya buah kolang-kaling menyesuaikan harga pasar. Saat ini harga kolang-kaling sebesar Rp8000 hingga Rp10 ribu perkilogram di sejumlah pasar Purwakarta.
“Kalau saya jual 5 ribu per kilonya, makanya lumayan laris manis dalam satu minggu saya jual kolang-kaling sekitar 3 kwintal bersih,” ungkapnya.
Junaedi mengatakan, dalam satu bulan Ramadan, ia bersama petani lainnya sanggup menghasilkan buah kolang kaling hingga 5 ton dan siap dipasarkan melalui tengkulak yang sudah siap membeli.
“Cuma banyak pemesan itu satu tahun sekali saja, ya lumayanlah untuk beli baju lebaran mah,” katanya.
Diketahui, Desa Pasirmunjul Kecamatan Sukatani merupakan wilayah subur dan tergolong asri. Hal itu dibuktikan dari beberapa kampung daerah itu masih dipenuhi pohon aren dan pohon rindang lainnya.
Tak heran jika banyak warga di desa tersebut bermata pencaharian sebagai penyadap air nira atau aren dan pengolah buah kolang-kaling.
Sementara, dalam praktek pengolahannya, buah aren yang baru dipetik dari tandannya, tidak semudah yang dibayangkan dengan langsung dikupas.
Namun caranya adalah buah tersebut harus melalui proses penggodokan di atas tungku dengan panas hingga 100 derajat celsius.
“Ya harus digodok dulu biar keluar buahnya dan tidak gatal pada kulit. Minimal direbus dulu 2,5 jam agar memudahkan pengupasan buahnya (kolang kaling). Jika kurang matang, kurang baik,” terang Junaedi.
Setelah digodok dalam tungku wajan yang berasal dari drum yang dibelah, buah matang tersebut kemudian melewati proses pengupasan untuk mengeluarkan biji kolang kaling yang berwarna putih bening dan berbentuk lonjong itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
