Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Agustus 2017 | 21.03 WIB

Rumah Ini Tempat Percetakan Uang Indonesia Pertama

Tugu perjuangan dengan ukiran Oeang Repoeblik Indonesia Lengayang di Kampung Koto Pulai, Nagari Kambang Timur. - Image

Tugu perjuangan dengan ukiran Oeang Repoeblik Indonesia Lengayang di Kampung Koto Pulai, Nagari Kambang Timur.

JawaPos.com - Sebelum menggunakan rupiah, Indonesia menggunakan mata uang yang bernama Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Mata uang ini digunakan selama tiga tahun, 1945-1949, untuk membiayai perang melawan gempuran Belanda.


Dari catatan Padang Ekspres (Jawa Pos Group), di Sumbar ORI disebut ORI Lengayang. Mata uang ini dicetak di Kotopulai, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan.


Desa ini berada di tengah hutan dan bersebelahan langsung dengan kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS). Dulunya kampung ini sangat sulit dijangkau. Sehingga strategis dan menjadi basis pertahanan bagi para pejuang.


Kini, sisa-sisa kejayaan Kampung Koto Pulau masih ditemukan dengan potensi terbesarnya sektor perkebunan, pertanian dan peternakan. Komoditi unggulannya berupa karet, kakao, gambir, durian, padi dan lainnya. 


Akses jalan ke kampung yang berada di hulu Batang Kambang atau berjarak sekitar 20 kilometer dari Pasar Kambang, Ibu Kota Kecamatan Lengayang itu, cukup mudah. Sebab ruas jalan sudah tersentuh aspal hotmix.


Kejayaan eks-pusat ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan Kerinci Seblat (PSK) yang diperintah Bupati Militer Aminuddin St Syarif itu, tersimpan di benak Buya H Rusli Nur, 88.


Buya H Rusli Nur adalah salah seorang pelaku sejarah yang ikut berjuang dan terlibat dalam pembuatan ORI Lengayang. ”Terputusnya berbagai akses setelah daerah-daerah strategis dikuasai Belanda waktu itu, membuat perkampungan ini terisolasi. Kemiskinanpun menjadi merajalela,” kata Buya H Rusli Nur saat ditemui Padang Ekspres beberapa waktu lalu. 


Rusli bercerita, ORI Lengayang dicetak pertama kali pada Desember 1948 di rumah H Tinta, di Kampung Kotobaru menjelang pasar atau Balai Kamis.


”Anggota percetakan uang Lengayang ini berjumlah 20 orang, termasuk saya sendiri. Saat itu, saya bersama 20 anggota percetakan masih berstatus pelajar setingkat SMP. Namun, rata-rata umur kami sudah di atas 17 tahun,” terangnya.


Ke-20 orang ini juga tergabung dalam Tentara Pelajar (TP) yang bermarkas di Kampung Akad, Nagari Kambang Induk. Selama mencetak uang, Rusli bersama tentara pelajar lainnya cukup mengalami kesulitan yakni keterbatasan kertas dan cat. Kedua bahan ini sering putus. Untuk pengganti cat dipakai pensil kopieh.


Sementara untuk mendapatkan dawatnya, direndam ujungnya ke dalam air panas, lalu dituliskan. Sedangkan pengganti cat lainnya adalah gincu warna merah.


Karena Kampung Koto Pulai sudah menjadi bagian sejarah, maka pada 2004 lalu dibangunlah tugu perjuangan di daerah tersebut. Tepatnya di gerbang menjelang memasuki kampung itu yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pasar Kambang.


Wali Nagari Kambang Timur, Sondri KS mengaku menyayangkan banyaknya peninggalan bersejarah itu seakan ditinggalkan begitu saja. ”Bahkan rumah bekas tempat percetakan uang dan bekas kantor Bupati PSK ini, dijadikan masyarakat sebagai tempat mengaji. Tidak ada dokumen dan peralatan lain yang tersisa di rumah ini, kecuali ruangan kosong dan tikar anak-anak mengaji,” ungkapnya.


Biar begitu, menurut dia, berbagai infrastruktur untuk menunjang kebutuhan masyarakat dari berbagai sektor sudah mendapat perhatian pemerintah. ”Semua sarana itu telah bisa dinikmati oleh 2.530 jiwa penduduknya,” ungkap Sondri.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore