Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 November 2017 | 06.02 WIB

Profesor Asal Jepang Sarankan Petani Pelihara Siput

Prof Satoru Sato dalam seminar di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FP-UMY). - Image

Prof Satoru Sato dalam seminar di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FP-UMY).

JawaPos.com - Bertani dengan penggunaan siput dianggap bisa menyuburkan tanah dan meningkatkan produksi. Teknik itu dirasa mampu mengubah kehidupan para petani di Indonesia ke depannya.


Ahli pertanian dari Jepang Prof Satoru Sato menyarankan agar petani di Indonesia secara bertahap berhenti menggunakan pestisida dalam bertani, khususnya padi. Kemudian beralih menggunakan hewan dari alam untuk menyuburkan tanah, seperti siput.


"Saya menawarkan sebuah solusi yakni dengan penggunaan siput dalam proses pertanian, salah satunya pertanian padi," kata dosen Yamagata University, Jepang itu dalam seminar bertajuk “Current Situationand Future Prospect of Agriculture in Japan: From an Ecologist Point of View", di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FP-UMY), Senin (20/11).


Solusi yang ditawarkan Satoru merupakan hasil penelitiannya di Jepang. Menurutnya, lahan pertanian padi yang di dalamnya terdapat siput mempunyai kondisi tanah subur dan air yang bersih. Dibandingkan dengan lahan yang tidak ada jenis hewan bernama latin Helix Pomatia itu.


Kondisi tanah yang tidak ada siput di dalamnya, lanjut Satoru, memiliki karakteristik yang kurang baik dan terdapat lumut pada kondisi airnya. Lain halnya dengan padi yang ditemani siput, sangat terlihat berbeda dari mulai warna daun yang lebih segar hingga biji padi yang lebih rimbun. "Hasil pertaniannya juga lebih meningkat, walaupun belum memenuhi target konsumsi yang dibutuhkan,” ucapnya.


Satoru mengaku sempat mengunjungi beberapa petani di Indonesia. Ia menyimpulkan bahwa bercocok tanam menggunakan teknik organik mampu mengubah kehidupan para petani. "Teknik ini bisa mengubah kehidupan dari petani sendiri," tuturnya.


Namun untuk menarik minat petani yang belum menggunakan teknik ini tidak mudah. Mereka baru akan percaya bila melihat langsung proses pertanian yang menggunakan siput karena tidak mau menanggung kerugian. "Yang bisa dilakukan yaitu dengan sosialisasi kepada petani," pungkasnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore