Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Oktober 2017 | 17.14 WIB

Cerita Lain Sebelum Kasus 3 Brimob Tewas di Blora

Jenazah Brigadir Budi Wibowo dilepas dengan acara kedinasan di Desa Sugihrejo, Gabus, Pati - Image

Jenazah Brigadir Budi Wibowo dilepas dengan acara kedinasan di Desa Sugihrejo, Gabus, Pati

JawaPos.com - Ada cerita lain di balik kasus penembakan yang dialami tiga orang personel Brimob Polda Jateng di Blora. Sebelum kejadian tragis itu warga masih melihat ketiga jalan bersama seperti saudara sendiri dengan sepeda motor trail.
Ke mana-mana mereka memang sering bersama, termasuk sebelum peristiwa tersebut berlangsung.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, tiga anggota Brimob Polda Jateng tewas dengan luka tembak di tubuhnya pada Selasa (10/10) sekitar pukul 18.30. Mereka adalah Bripka Bambang Tejo, 36; Brigadir Budi Wibowo, 30; dan Brigadir Ahmad Supriyanto, 35. Selanjutnya, pelaku penembakan diduga Bripka Bambang Tejo.


Setelah menembak dua rekannya dengan menggunakan senjata laras panjang AK 101, Brigadir Bambang Tejo diduga bunuh diri dengan cara menembak kepalanya. Insiden itu terjadi saat enam anggota Brimob yang dilengkapi persenjataan laras panjang mengamankan pengeboran sumur minyak SGT pada Selasa (10/10). Namun, pada saat pengamanan tersebut, dua anggota izin dan empat lainnya berada di lokasi.


Jawa Pos Radar Kudus mencoba menelusuri jejak perjalanan mereka sebelum terjadi insiden itu. Tempat kejadian perkara (TKP) di SGT 01 Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen, Blora, dijaga ketat aparat kepolisian hingga kemarin. Awak media dan masyarakat umum belum diperbolehkan memasuki kawasan tersebut. Namun, police line tidak lagi menempel seperti hari sebelumnya.


Putri Nuraini, 32, perempuan yang biasa mengirim nasi katering kepada petugas jaga tak mempercayai insiden itu. Pukul 17.15 dia masih mengirim jatah makan sore kepada belasan personel. Totalnya ada 13 bungkus nasi.


"Saya sampai di tenda (kamp, Red) ada empat TNI pada tiduran. Bukan tidur ya. Selanjutnya, tenda anggota Brimob kebetulan tertutup tidak seperti biasanya. Akhirnya, saya ketuk dan dibukakan Brigadir Ahmad Supriyono," jelasnya.


Putri menambahkan, salah seorang anggota TNI saat itu sempat minta tolong dibelikan obat sakit kepala. Namun, dia belum sempat membelikan obat tersebut. Setelah sampai di rumah, dia lantas mendengar suara letusan dari TKP.


Hingga kemarin, Putri mengaku masih terbayang-bayang wajah para korban. Saat malam kejadian dia juga tidak bisa tidur karena ikut shock. '"Bambang dan Supriyono itu seperti saudara. Orangnya juga ramah. Wong saya sering lihat mereka selalu bersama-sama. Jadi, kalau itu dibilang ada cekcok dan masalah pribadi, saya tidak percaya,'' tegasnya.


Sumarno, salah seorang sekuriti di lokasi pengeboran SGT 01 Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen, Blora, mengakui, sebelum kejadian sekitar pukul 16.00, ketiga korban sempat trail-trail-an di sekitar punden (makam yang disakralkan) di Desa Karangtengah. Selanjutnya, mereka mencuci sepeda motor di bawah jembatan Sungai Lusi Karangtengah.


Pukul 17.50 mereka masuk kerja, dilanjutkan meeting bersama rekan-rekannya. Saat itu Sumarno melihat Bripka Bambang Tejo mencari obat sakit kepala di warung sekitar TKP. Namun, Bambang tidak berhasil mendapatkan obat tersebut karena tidak ada yang jual. 

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore