Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Agustus 2017 | 08.26 WIB

Hiiii Serem… 7 Tahun Hidup di Kamar Mayat, Ini Kisah Sriadi

Sriadi, 7 tahun memegang segala jenis mayat, banyak kisah horo dialaminya. - Image

Sriadi, 7 tahun memegang segala jenis mayat, banyak kisah horo dialaminya.

JawaPos.com - Melakoni profesi sebagai penjaga Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) selama tujuh tahun menyisakan banyak pengalaman yang tak bisa dilupakan. 


Sriadi sudah hampir tujuh tahun menjadi penjaga IPJ atau yang biasa disebut kamar mayat. Baginya, melihat dan memegang mayat sudah menjadi hal biasa baginya. 


Meski jika kita tanya pada orang umum, kamar mayat selalu identik dengang hal-hal horor. Tentu pikiran banyak orang pasti tertuju ke sebuah tempat di sudut paling ujung sebuah rumah sakit. 


Ruangan itu biasanya sempit dan menyeramkan. Namun tidak dengan kamar mayat di RSUD Kota Mataram, NTB. Di sini, kamar mayatnya lebih modern. Tempatnya juga tidak menyeramkan.


Di tempat inilah Sriadi tiap hari bertugas. Hampir tujuh tahun sudah dia di sana. Ini artinya, ia menjadi penunggu kamar mayat sejak RSUD Kota Mataram mulai beroperasi 2010 lalu.


Saking lamanya di sana, pria berusia 42 tahun itu sudah tidak takut lagi melihat mayat. Karena, yang dia tangani sudah bermacam-macam kondisinya. Mulai mayat masih utuh hingga mayat korban kecelakaan yang badannya remuk.


“Kalau dulu pertama bertugas di sini, jantung saya berdebar-debar waktu melihat jenazah yang berlumuran darah,” kata Sriadi saat ditemui Lombok Post (Jawa Pos Group), kemarin.


Meskipun sempat takut, Sriadi bersyukur karena ketakutannya tidak pernah terbawa sampai ke rumah.


“Dulu, pernah suatu malam, ketika saya sedang tidur, pernah diganggu. Waktu itu ranjang saya digoyang-goyang. Saya langsung bangun, tapi tidak bisa ngapa-ngapain,” tutur bapak satu anak itu.


dr Ni Putu Sasmita Lestari, Sekretaris IPJ yang juga rekan kerja Sriadi di Kamar Jenazah mengatakan, Sriadi setiap hari minimal mengurusi empat jenazah.


Jumlah jenazah untuk bulan Juli lalu yang masuk IPJ tercatat ada 90 jenazah. “Tugas Pak Sriadi sekarang lebih mudah jika dibandingkan dulu, sekarang sudah lengkap, ada petugas dan sopir,” jelasnya.


Dulu, Sriadi bisa dikatakan bekerja sendiri mengurus jenzah di RSUD Kota Mataram. Mulai dari kedatangan hingga masuk mobil ambulans untuk dibawa ke rumah keluarga jenazah  tersebut.


“Kalau dia (Sriadi) tidak ada di sini, kami merasa kehilangan. Dia sosok yang baik dan sepuh di sini,” tambah dr Tari.


Sriadi dikenal sebagai sosok baik dan murah senyum. Ia sering diguyonin sama teman-temannya di RSUD Kota Mataram. Terutama oleh para petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD).


“Ada guyonan teman-teman di rumah sakit ini, saya dilarang lewat IGD. Kata mereka saya seperti mencari jenazah saja,” tutur Sriadi sambil tersenyum.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore