
ULET: Hariyanto, pemilik perusahaan ekspor PT Asal Jaya, menunjukkan sebagian piagam penghargaan yang diraih.
JawaPos.com - Nama Hariyanto, 60, di dunia bisnis kopi sudah sangat patut dan layak diperhitungkan. Bagaimana tidak, warga Malang ini sudah menjadi eksortir kopi sejak tahun 1993. Artinya, bapak dua anak ini sudah 25 tahun berkecimpung di perkopian.
Mengunakan bendera yang dia namakan PT Asal Jaya, yang berlokasi di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, ia mengirimkan biji kopinya ke puluhan negara.
Kopi yang dia ekspor, sebagian besar merupakan komoditas asli Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Namun tidak menutup kemungkinan mereka mengirimkan biji kopi dari daerah lain di Indonesia. Pendek kata, Hari merupakan eksportir khusus kopi asli Indonesia.
Hariyanto merupakan sosok yang ramah, murah senyum dan bijaksana. Hal ini terlihat saat berbincang dengan JawaPos.com, di salah satu ruangan yang ada di pabriknya.
Ditemani dengan penanggung jawab operasional perusahaan, Thomas, laki-laki asal Surabaya ini mulai berkisah mengenai perjalanan bisnisnya.
Berkiprah di dunia ekspor kopi, saat ini, laki-laki murah senyum itu mampu mengirimkan biji kopi asli Indonesia, ke 45 negara di seluruh dunia.
Jumlah kopi yang mampu dia ekspor juga fantastis, yakni mencapai 4 ribu hingga 4.500 ton per bulan. Artinya, dalam satu tahun dia mampu mengirimkan 48 ribu hingga 54 ribu biji siap giling, ke 45 negara.
Kunci suksesnya membesarkan bendera bisnis, adalah jujur dan dapat dipercaya, dengan tidak mencampur biji kopi. Selain itu juga disiplin dalam pengiriman dan kualitas.
"Jika sudah dipercaya pembeli, harus dijaga. Jika mereka ingin kopi Jawa, ya kasih saja, jangan dicampur dengan lainnya," kata laki-laki yang terlihat lebih muda dibandingkan usianya itu.
Sebelum menjadi eksportir kopi, laki-laki yang pernah tinggal di Dampit sejak tahun 1980 hingga 1997 ini, menjadi pengepul kopi dari petani. Kemudian, biji kopi ini dia jual kepada para eksportir. Pendek kata, Har merupakan penyalur biji kopi kualitas ekspor dari petani kepada eksportir.
Peran ini, dia lakukan selama 10 tahun, dari tahun 1980 hingga 1990. Kemudian, tiga tahun dia mengurus lisensi eksportir, dan 1993 Har resmi mengirimkan biji kopi ke seluruh dunia.
Dari sana, bapak dua anak ini mengaku banyak belajar mengenai kopi kualitas ekspor, grade hingga jalur untuk mengirimkan barang ke luar negeri.
"Ya 10 tahun ya, saya menjadi penyalur kopi ke pengekspor. Saya belajar mengenai ekspor kopi ya dari senior saya, eksportir yang lebih dulu," bebernya, kepada JawaPos.com, dengan suara yang halus dan ramah.
Awalnya, Hari membangun bisnis ekspor kopi, dia akui tidak mudah. Perlu jatuh bangun. Pernah dia mengirimkan satu kontainer kopi ke negara tetangga, namun sayang, kontainer berlubang, sehingga mengalami kebocoran. Akibatnya, biji kopi menjadi tidak layak ekspor karena basah.
Alhasil, satu kontainer dengan kapasitas sekitar 22 ton, harus dikembalikan. Rugi? Tentu saja, namun Har memilih untuk belajar dari pengalaman itu. "Hal semacam itu kecil sekali terjadi. Pernah terjadi, namun presentasenya sangat kecil," kata dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
