Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juni 2026 | 00.04 WIB

NU Solo Soroti Krisis Kepemimpinan Ulama di PBNU, Ingatkan Organisasi Harus Fokus Perjuangkan Umat

Halaqah Kiai Muda NU bertema Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mustofa. (Istimewa) - Image

Halaqah Kiai Muda NU bertema Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mustofa. (Istimewa)

JawaPos.com - Sejumlah kiai muda, pengasuh pesantren, akademisi, dan intelektual Nahdlatul Ulama (NU) dari wilayah Solo Raya menyoroti kepemimpinan di tubuh PBNU. Kondisi ini yang dianggap memicu terjadinya sejumlah konflik di internal organisasi.

Hal itu disampaikan para ulama dalam Halaqah Kiai Muda NU bertema Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (2/6).

Intelektual NU Ahmad Baso mengatakan, di internal PBNU telah menurun fungsi kepemimpinan ulama. Kondisi ini sangat berpengaruh dalam menjaga NU tetap berada pada rel perjuangannya.

“KH Ahmad Siddiq pernah mengibaratkan NU seperti rel kereta api yang harus tetap berada pada jalurnya, bukan seperti taksi yang arah perjalanannya ditentukan sepenuhnya oleh sopir. Organisasi harus berjalan berdasarkan prinsip dan sistem, bukan semata-mata bergantung pada figur,” ujar Baso.

Dia menyampaikan, Rais Aam memiliki peran sentral sebagai penjaga arah organisasi sekaligus otoritas moral tertinggi. Pejabat posisi ini harus mampu memberikan koreksi terhadap berbagai penyimpangan, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kepentingan umat.

“Beliau mengajarkan bahwa tugas ulama bukan sekadar mendukung, tetapi juga mengingatkan dan mengoreksi ketika ada kebijakan yang keliru,” imbuhnya.

Baso memandang, seseorang yang menjabat sebagai Rais Aam harus memenuhi empat kriteria utama, yakni wara’ (menjaga diri dari orientasi duniawi), faqih (memiliki kedalaman ilmu agama dan fikih), muharrik (mampu menggerakkan umat), dan munazzim (memiliki kapasitas organisatoris).

“Jika Rais Aam tidak memiliki kapasitas keilmuan yang kuat, maka otoritas ulama akan melemah dan mudah terpinggirkan dalam pengambilan keputusan organisasi,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Pengasuh PPM Aswaja Nusantara Mlangi, Gus Mustafid mengatakan, kritik dari Nahdliyyin harus menjadi pemicu bagi PBNU agar berbenah. Kritik tersebut jangan dijadikan ajang untuk memecah belah.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore