Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Mei 2026 | 21.16 WIB

Dari Andaliman hingga Kemenyan, Upaya Menjaga Warisan Hayati Tanah Batak di Tengah Tantangan Zaman

Petani kemenyan di Desa Hutagalung, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. (Ama Santa Situmorang/ Toba Pulp Lestari) - Image

Petani kemenyan di Desa Hutagalung, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. (Ama Santa Situmorang/ Toba Pulp Lestari)

JawaPos.com - Tanah Batak menyimpan kekayaan hayati yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas budaya dan sumber penghidupan masyarakat. Di satu sisi ada andaliman, rempah khas yang mulai menembus pasar internasional. Di sisi lain, ada kemenyan yang kini menghadapi tantangan regenerasi dan penurunan produktivitas sehingga membutuhkan sentuhan inovasi agar tetap bertahan.

Sumatera Utara memang tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil sawit, karet, atau tembakau. Dari kawasan Tapanuli hingga perbukitan sekitar Danau Toba, tumbuh dua komoditas khas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya, yakni andaliman dan kemenyan.

Andaliman, yang kerap disebut sebagai "lada Batak", merupakan rempah yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam berbagai masakan khas Batak.

Tanaman ini adalah spesies endemik asli wilayah Tapanuli yang hanya tumbuh di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, di iklim sejuk dan lembap, serta di bawah naungan tanaman pelindung. Kaya akan nutrisi alami, andaliman menawarkan lebih dari sekadar rasa ia membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Di garis depan kebangkitan andaliman adalah Marandus Sirait, seorang aktivis lingkungan dan pendiri Taman Eden 100 di wilayah Toba. Penerima Penghargaan Kalpataru yang bergengsi pada tahun 2005 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Marandus telah menjadikan andaliman sebagai inti dari upayanya dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi lokal.

"Selama bertahun-tahun, andaliman hanya digunakan sebagai rempah segar, yang cepat busuk selama pengiriman. Sekarang kami sedang mengerjakan versi keringnya, seperti bubuk lada, sehingga dapat dikirim ke luar Sumatera Utara," kata Marandus dari gubuk kayunya, dikutip melalui artikel PT Toba Pulp Lestari, Sabtu (30/5).

Bersama timnya, ia mengeringkan rempah-rempah tersebut secara alami di bawah sinar matahari, kemudian menggilingnya menggunakan mesin sederhana untuk menghasilkan bubuk andaliman berkualitas tinggi. Kulit yang lebih muda juga diolah menjadi pasta cabai, bumbu instan, dan bahkan obat tradisional.

Marandus tidak hanya berhenti pada pelestarian penggunaan tradisional, la juga memanfaatkan rasa andaliman yang unik dan menggugah selera untuk mengembangkan produk makanan kreatif seperti martabak telur andaliman, pizza rasa andaliman, dan keripik andaliman. Tujuannya jelas: menjadikan andaliman sebagai ikon kuliner dan komoditas khas wilayah Danau Toba.

Misi Marandus telah mendapat dukungan dari berbagai sektor - mulai dari PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang menyumbangkan dana Pengembangan Masyarakat (K3) untuk bibit tanaman, hingga instansi lingkungan setempat, universitas, dan kementerian pemerintah pusat. Kementerian Kelautan, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, dan bahkan selebriti Margharet Siagian (yang diangkat sebagai duta Andaliman) telah menunjukkan dukungan.

Pada Desember 2018, andaliman mendapatkan perhatian global ketika dipamerkan di "Pameran Rempah-Rempah Nusantara" di Kolombia, menandai langkah signifikan menuju pasar internasional.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore