
Dua karyawan merawat bibit tanaman sebelum diambil warga Kudus. (M. Ali Mahrus/Jawa Pos)
JawaPos.com–Sampah. Kotor, bau, sumber penyakit. Tapi kalau diolah dan ditangani dengan benar sampah bisa membawa banyak manfaat.
Setiap hari, dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, truk-truk milik Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mondar-mandir. Mengambil sampah organik dari hotel, sekolah, rumah sakit, katering, rumah makan, hingga perusahaan. Tak ada biaya. Truk-truk tersebut kemudian menuju kawasan Djarum Oasis Kretek Factory di Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, Jawa Tengah.
BLDF membangun Pusat Pengolahan Organik (PPO) pada 2018. Di PPO, sampah organik didaur ulang menjadi pupuk organik. Pada area seluas 11 hektare, tiap hari sekitar 50 ton sampah organik dari wilayah Kudus diolah menjadi kompos melalui proses fermentasi selama 6 bulan.
Jumlah sampah yang diolah tiap hari di fasilitas ini mencapai sekitar 10 persen volume sampah harian Kabupaten Kudus. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kabupaten Kudus pada 2018-2023 mencatat volume sampah harian mencapai 552 meter kubik atau 445,9 ton. 60 persen di antaranya merupakan sampah organik.
”Sejauh ini kami memiliki sekitar 400 mitra. Kami ada sepuluh truk yang setiap hari mengambil sampah organik ke berbagai instansi seperti hotel, rumah sakit, katering, sekolah, rumah makan, perusahaan dan lainnya,” ujar Staf Pusat Pengolahan Organik Bakti Lingkungan Djarum Foundation Timothy Ariel Saputra.
Kompos yang diproduksi bisa diambil gratis oleh masyarakat ber-KTP Kudus. Satu warga, dalam waktu 3 bulan sekali bisa mengambil 2 karung kompos dan 2 bibit tanaman. Pihak-pihak lain di Kudus bisa mendapatkan jumlah bibit dan kompos dalam jumlah lebih banyak dengan mengajukan proposal.
”Ketika bicara bibit, akan lebih baik jika ada pupuk. Pengolahan sampah organik kami menjadi sinergi yang otomatis mendukung kebutuhan pembibitan dan penghijauan,” jelas Deputy Program Manager BLDF Prinsa Paruna.
Ya, selain dibagikan secara gratis, kompos juga digunakan untuk campuran media tanam dan memupuk bibit-bibit tanaman di Pusat Pembibitan Tanaman yang berlokasi sama dengan PPO terbesar di Indonesia itu. Ada lebih dari 400 jenis tanaman yang bisa diambil secara cuma-cuma oleh warga Kudus. Selain dibagikan kepada warga, bibit-bibit juga ditanam untuk menghijaukan banyak area.
Di antara yang banyak dibagikan dan ditanam adalah pohon trembesi. Kenapa trembesi? Sebab, pohon ini bisa menyerap CO2 cukup banyak. Satu pohon dengan diameter tajuk 15 meter, dapat menyerap hingga 28,5 ton gas CO2 per tahun.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
