Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Juni 2025 | 00.15 WIB

Soal Fenomena Sepi, Pengamat Transportasi: Perlu Sinergi dan Intermoda untuk Hidupkan Bandara Dhoho

LAYANI MUDIK: Salah satu sudut Bandara Dhoho Kediri. (Foto: Wahyu Adji/JPRK) - Image

LAYANI MUDIK: Salah satu sudut Bandara Dhoho Kediri. (Foto: Wahyu Adji/JPRK)

JawaPos.com - Pada akhir 2024 fenomena sepinya Bandara Dhoho, Kediri menjadi perhatian. Kini persoalan itu belum juga tuntas, Bandara Dhoho dikabarkan berupaya agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersedia menjadikan bandara tersebut bisa sebagai titik keberangkatan umrah mendatang. 

Terkait permintaan agar Bandara Dhoho menjadi titik keberangkatan umroh tersebut, Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Elba Damhuri mengaku masih melakukan pengecekan. "Saya cek dulu," ujarnya dihubungi Jawa Pos. 

Yang pasti, menghidupkan sebuah bandara bukan hanya persoalan satu pihak. Namun, juga memerlukan sinergitas antara lembaga, khususnya pemerintah daerah (pemda) dalam membangun intermoda dan daerah wisata. 

Pengamat Transportasi Djoko Setijawarno menuturkan bahwa seperti yang terjadi di Bandara Kertajati, sebuah bandara tidak cukup dipandang hanya ada dengan mengesampingkan moda transportasi menuju dan kekuar bandara. "Pengguna pesawat saat ini bukan hanya orang kaya, namun orang menengah ke bawah juga memakainya," paparnya. 

Karena itu intermoda atau sistem transportasi yang menggunakan berbagai jenis moda perlu dibangun untuk mendukung bandara. "Tidak hanya bus dan travel, kereta api juga dibutuhkan agar biaya transportasi ke bandara itu murah," terangnya. 

Karena itu perlu ditilik bagaimana intermoda di Bandara Dhoho. Diketahui moda transportasi menuju Bandara Dhoho hanya bisa menggunakan bus dari dua perusahaan otobus. "Kalau cuma bus saja, tentunya perlu penambahan," tegasnya. 

Tidak hanya soal intermoda, lanjutnya, peran dari pemda juga perlu lebih luas dalam mengembangkan wisata di Kediri. Hal itu sebagai pemicu meningkatnya pengguna pesawat menuju Kediri. "Tanpa pengembangan tempat wisata, sulit membuat bandara hidup. Mau kemana wisatawan kalau ke Kediri," ujarnya. 

Dia mengatakan, salah satu daerah yang berhasil menghidupkan bandara adalah Banyuwangi. Hal itu karena pengembangan tempat wisata di Banyuwangi yang juga sangat menarik. Seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Bangsring Underwater, Pantai Pulau Merah, dan De Djawatan. "Hal semacam ini perlu dicontoh pemda Kediri. Artinya, bandara itu untuk hidup butuh kontribusi semua pihak," urainya. 

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore