Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Mei 2025 | 21.21 WIB

Sulitnya Cari Nafkah di Tengah Gejolak Ekonomi: Cerita Para Pencari Kerja Muda di Tengah Badai PHK

Ilustrasi PHK. (Dok. JawaPos.com) - Image

Ilustrasi PHK. (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus bergulir membuat peluang kerja terasa semakin sempit.

Kesulitan tersebut semakin menghimpit saat perusahaan-perusahaan memutuskan untuk melakukan efisiensi menyusul merosotnya pendapatan, termasuk akibat aksi boikot produk yang diduga terafiliasi Israel.

Bagi sebagian orang, boikot adalah bentuk solidaritas atas penderitaan rakyat Palestina. Namun bagi mereka yang terkena imbasnya, para pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat lesunya bisnis perusahaan terdampak, boikot menyisakan kekhawatiran baru yakni sulitnya mencari nafkah di tengah ekonomi yang belum pulih sepenuhnya.

Melki, 27, warga Tangerang, adalah salah satu yang merasakan himpitan tersebut. Dia baru saja kehilangan pekerjaan dari sektor bisnis Food and Beverages (FnB) di salah satu gerai waralaba di Serpong, Tangerang Selatan. Mantan barista itu kini berharap ada perusahaan yang membuka pintu baginya untuk bekerja.

"Saya baru nganggur sekitar sebulan. Saat ini sedang mencari pekerjaan bersama adik saya yang baru lulus (kuliah)," kata Melki yang tengah mencoba peruntungan dengan mendatangi Job Fair di Kementerian Ketenagakerjaan, belum lama ini.

Pria 27 tahun ini pun bersimpati terhadap siapapun warga yang terkena PHK akibat dari gerakan boikot yang dilakukan masyarakat luas.

"Soal boikot-boikot itu tahu, tapi tidak terlalu mengikuti. Saya sendiri tidak melakukan boikot dan pakai produk sesuai kebutuhan saja. Kalau PHK karena boikot memang kejadian, ya sedih juga. Apalagi kalau ternyata itu bikin makin susah cari kerja," katanya.

Perasaan senada juga diungkapkan Rahadi Syukur, 25. Dia mengaku kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi. "Lowongan kerja lebih sedikit dan pencari kerja akan semakin banyak. Kalau hanya untuk kerja sekedar kerja, bisa saja tetapi siapa yang ingin bekerja seperti itu?" katanya.

Dia mengaku sangat bersimpati dengan warga kehilangan pekerjaan akibat boikot. Apalagi, sambung dia, pekerjaan yang mereka jalankan sebenarnya halal, namun terpaksa harus di PHK karena tempat kerja mereka diboikot.

Menurutnya, boikot tidak akan berdampak apabila dilakukan dengan hanya dugaan afiliasi saja. Dia mengatakan, boikot akan efektif apabila dilakukan langsung terhadap perusahaan-perusahaan yang terbukti terafiliasi langsung dengan Israel, bukan serampangan pada setiap produk asing di Indonesia.

"Selain itu harus dilakukan secara kolektif dan terpusat. Boikot sembarangan justru malah merugikan masyarakat pekerja," kara Rahadi.

Hal serupa diungkapkan seorang pencari kerja asal Bogor Rani, 28. Dia mengungkapkan bahwa kondisi pasar kerja saat ini jauh lebih sulit dibanding dua atau tiga tahun lalu.

"Saya sangat bersimpati sama teman-teman yang di-PHK karena alasan seperti itu. Mereka nggak salah, tapi tetap harus kena dampaknya," katanya.

Bagi Rani, boikot bukan jalan efektif untuk menekan penjajahan Israel ke tanah Palestina. Secara pribadi, mantan karyawan yang bekerja di bidang komunikasi periklanan ini juga tidak pernah melakukan aksi boikot terhadap produk apapun.

"Faktanya, sampai sekarang serangan ke Palestina masih terus terjadi. Yang terkena justru rakyat kita sendiri, para pekerja biasa yang harus kehilangan mata pencahariannya," katanya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore