Pasar sore Ramadhan yang menyediakan jajanan berbuka atau takjil selalu ramai diburu warga.
JawaPos.com - Berburu takjil merupakan momen yang tak terlewatkan selama bulan Ramadhan. Tetapi para pembeli harus lebih berhati-hati dalam memilih makanan.
Pasalnya, dalam sidak sentra takjil Sekartaji kemarin, tim gabungan menemukan sejumlah olahan makanan yang dinyatakan positif mengandung bahan berbahaya, yakni boraks dan formalin.
Terkait hal itu, tim gabungan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Kediri, satpol PP, serta organisasi perangkat daerah (OPD) telah menyasar beberapa lapak yang ada di sana.
Setelah berkeliling di 200 lapak, mereka mengambil 30 produk makanan yang digunakan sebagai sampel. Beberapa produk tersebut yakni saus telur gulung, es campur, tahu bakso, mi lidi, baby crab, dan beberapa produk lainnya.
"Dari 30 sampel itu, ada dua yang positif (bahan berbahaya, Red)," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyir, seperti dikutip dari Radar Kediri (Jawa Pos Group) pada Jumat (22/3).
Hasil uji cepat dari dua sampel makanan yang dijajakan di Jl Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto yang positif mengandung bahan berbahaya tersebut yakni cincau hitam atau janggelan dan sate kerang.
Fajri menyebutkan bahwa dua olahan makanan tersebut mengandung bahan pengawet berupa boraks dan formalin.
"Yang janggelan (cincau hitam) positif boraks. Kemudian sate kerang positif formalin," ujarnya.
Selain menguji kandungan pengawet buatan, sidak tersebut juga menyasar penggunaan pewarna tekstil dalam makanan.
Terkait hal itu, Kepala Balai POM Kediri Gidion mengatakan bahwa pewarna tekstil yang biasanya ditemui dalam makanan adalah Rhodamin B dan Methanyl Yellow. Oleh sebab itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap warna makanan yang mencolok.
"Biasanya makanan yang mencolok terkadang menggunakan pewarna tekstil. Memang tidak boleh untuk makanan karena mengganggu kesehatan," ungkapnya.
Untungnya, dari puluhan sampel lainnya yang di uji cepat, tidak ditemukan makanan yang positif menggunakan pewarna tekstil. Di sana hanya ditemukan pengawet buatan dalam sampel takjil.
Gidion dalam hal ini juga mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap beberapa produk makanan, salah satunya yang berbahan tepung namun memiliki tekstur terlalu kenyal dan keras karena bisa terindikasi mengandung pengawet seperti boraks dan formalin.
"Yang sering ditemui (dalam makanan, Red) ada boraks dan formalin. Kalau yang pewarna kadang yang merah sekali mengandung Rhodamin B dan Methanyl Yellow yang berwarna kuning," jelasnya.
Terkait temuan takjil yang mengandung bahan berbahaya tersebut, Fajri mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan uji konfirmasi untuk memastikan apakah makanan tersebut benar-benar positif berbahaya atau tidak.
"Kami hanya melakukan pembinaan untuk tidak dijual lagi dan tidak mempergunakan bahan-bahan tersebut," ujarnya.