
Pemeriksaan makanan yang dijual di salah satu ritel di Kota Solo/ sumber: Radar Solo_M.Ihsan
JawaPos.com – Aksi boikot terhadap produk yang berafiliasi dengan Israel terus menguat di dunia maya, sebagai dampak dari agresi militer Israel terhadap Palestina.
Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa No. 83/2023 tentang hukum dukungan terhadap Palestina, yang berimbas pada bisnis ritel yang banyak menjual produk pro Israel.
Dikutip dari Radar Solo, Minggu (26/11), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, Sri Saptono Basuki, angkat bicara dalam menanggapi sikap resistensi masyarakat.
Mengingat aksi boikot tersebut berdampak besar terhadap sektor ritel, belum lagi para pebisnis ritel juga harus menghadapi kontraksi ekonomi global, serta tingginya suku bunga perbankan.
“Makanya kalau kami (pengusaha) tidak punya sudut pandang yang bijak, yang sama, dan bersatu, ekonomi semakin terpuruk. Amerika Serikat tentu tidak akan tinggal diam. Sementara pergerakan ekspor kita banyak yang kesana,” ucapnya kemarin, pada Sabtu (25/11).
Basuki menambahkan, meskipun persentase pendapatan Timur Tengah prospeknya cukup tinggi, tetapi volume ekspornya lebih rendah dibandingkan ke Amerika Serikat maupun Eropa barat.
Sehingga sejumlah pengusaha mulai menyiasati boikot ini.
“Salah satunya dengan efisiensi produk, maupun pengalihan brand produk yang dipasarkan. Sambil terus berupaya mencari market baru dan diversifikasi produk,” imbuh Basuki.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Heru Sunardi, mengaku belum mendapat laporan dari para pengusaha ritel, terkait seruan boikot produk pro Israel.
“Kami belum survei. Jadi belum tahu laporan penjualan dan omset pelaku usaha ritel, apakah menurun atau tidak, yang jelas produk-produk itu sudah tidak diproduksi di Solo, tapi juga masih dibutuhkan konsumen. Isi boikot itu mungkin akan membuat pasokan produk berkurang,” jelasnya.
Heru berharap isu boikot produk pro Israel dapat dikaji lebih mendalam oleh pemerintah pusat. Apakah nantinya berujung kebijakan boikot total, atau yang lainnya.
“Karena boikot ini kan dampaknya ke mana-mana. Pertama, apakah barang penggantinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen? Kedua, dampaknya juga nanti ke tenaga kerja. Kalau analisa saya seperti itu,” ujarnya.
Sementara itu, Disdag masih menunggu instruksi dari pusat terkait kasus ini. Karena ini menyangkut perekonomian skala nasional, sehingga kebijakan ada di tangan pemerintah pusat.
“Kami di daerah sebenarnya belum mendapat koordinasi lebih lanjut. Sehingga upaya kami saat ini hanya sebatas memonitor, terkait upaya para pelaku usaha untuk bertahan,” papar Kepala Disdag kota Solo

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
