
Penyintas stroke asal Bekasi, Komaruddin, 65, berlatih berjalan kaki sejauh 10 km di Jalan M Hasibuan, Kota Bekasi. Komaruddin bersiap menuntaskan misi berjalan kaki dari Jogjakarta ke Bandung.
JawaPos.com - Komaruddin Rachmat, lansia penyintas stroke, sedang bersiap menuntaskan ambisinya berjalan kaki dari Jogjakarta menuju Bandung sejauh 400 km lebih. Ambisi itu semata-mata untuk menginspirasi, bahwa mereka yang senasib, sebenarnya bisa kembali beraktivitas normal selama ditunjang semangat juang tinggi.
September 2012 menjadi kenangan pahit yang tak akan dilupakan Komaruddin. Kerusakan otak akibat gangguan suplai darah membuat separuh tubuhnya lumpuh. Semangat Komaruddin pun kian meredup. Apalagi sejak dua tahun sebelumnya ia sudah purnatugas sebagai pegawai di salah satu BUMD di Kota Bekasi, Jawa Barat.
Selama enam bulan menjalani perawatan di RS Harum, Kalimalang, Jakarta Timur, dia dihadapkan pada dua pilihan yang harus diputuskan, menyerah di kursi roda, atau berjuang sekuat tenaga untuk terus bergerak, hingga kembali normal.
Komaruddin memilih yang kedua. Setelah dinyatakan pulih dari stroke, ia pun rutin berjalan kaki sejauh 12 km dari Stasiun Cikarang menuju ke kantor tempat dulu ia bekerja. "Stroke harus dilawan, jangan memilih berakhir di kursi roda," katanya kepada ANTARA.
Hasil studi Jurnal Stroke pada 2013 melaporkan bahwa berjalan kaki secara rutin dapat meningkatkan kesehatan pasien stroke dari sisi fisik, pergerakan tubuh, maupun kualitas hidup.
Bagi Komaruddin berjalan kaki adalah aktivitas yang menyenangkan sekaligus murah untuk kembali melatih otot-otot yang pernah kaku akibat stroke. Bahkan, di usianya yang menginjak 65 tahun pada 25 Oktober 2019, Komaruddin berhasil menunaikan nazar menyelesaikan etape Gedung Sate Bandung menuju Monas Jakarta dengan berjalan kaki selama lima hari.
Saat itu, ia didampingi tiga orang anggota tim yang memonitor kesehatan berikut satu unit ambulans dari Cahaya Foundation. Tepat pada 29 Oktober 2019 di Hari Stroke se-Dunia, Komaruddin tiba di Monas. Etape sejauh 153 km itu ia selesaikan rata-rata 36-40 km per hari.
Long March Siliwangi
Di usianya yang kini menginjak 69 tahun, Komaruddin tampak masih bugar, usai menyelesaikan sesi latihan berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Nyaris tak ada lagi tanda stroke di tubuhnya, kecuali jari manis dan kelingking di lengan kiri yang masih tertekuk kaku.
Jemari itu masih bisa bergerak untuk melepas jaket sauna yang membungkus tubuh Komaruddin. Tapi untuk membuka kancing baju, masih dirasa sulit. Pada 5 hingga 26 Agustus 2023, ia berencana mengulang perjalanan jauh. Kali ini dari Titik 0 Jogjakarta menuju Gedung Sate Bandung, 400 km lebih jarak yang akan ditempuh, dengan asumsi setiap hari melibas sekitar 20 km perjalanan dalam waktu 20 hingga 21 hari.
Kali ini, tim pemandu dan ambulans sepenuhnya ditangani Cahaya Foundation, yang dengan sepenuh hati akan mendampingi perjalanannya sejak awal hingga selesai. Berbekal momentum Kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus, Komaruddin mengusung jargon "Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati" untuk menginspirasi banyak orang agar membiasakan hidup sehat.
Lantas, apa sebenarnya yang melecut semangat Komaruddin selama ini mau menempuh perjalanan jauh? Kisah pahit dan getir para anggota Divisi Siliwangi yang harus menempuh jarak 600 kilometer demi kembali ke kampung halaman pada Mei 1948, selalu terbayang di kepala Komaruddin, hingga melecut semangatnya untuk berjalan kaki sejauh mungkin.
Runtuhnya Perjanjian Renville yang ditetapkan oleh Belanda-Indonesia mengharuskan para "Maung" kembali ke kampung halamannya, sesuai perintah Jenderal Soedirman kala itu. Perjalanan itu ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan air mata pun harus mereka relakan.
Sepanjang jarak 600 km, para peserta long march harus berkawan akrab dengan kelaparan, penyakit, hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Bagi Komaruddin, kisah jalan pulang serdadu Siliwangi adalah adegan seru yang setiap saat bisa ia putar di ingatan, manakala butuh semangat untuk bisa sampai ke tempat tujuan.
YouTuber

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
