
WARISAN LELUHUR: Tokoh Desa/Kecamatan Ngetos, Nganjuk, melakukan jamasan atau pencucian pusaka. (Dokumen Desa for Jawa Pos)
Tradisi jamasan pusaka yang biasa digelar pada bulan Sura biasanya dilakukan dengan selamatan dan arak-arakan yang meriah. Ritual yang berbeda digelar warga Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Mereka mencuci pusaka desa dan mengaraknya dalam kondisi senyap.
HAMPIR semua warga Desa/Kecamatan Ngetos mengetahui bahwa pusaka desa mereka dicuci alias dijamas saat bulan Sura. Namun, hanya sebagian kecil warga yang mengetahui prosesinya. Ritual itu dilakukan saat warga terlelap dalam tidurnya.
Aris Trio Effendi, salah seorang tokoh sejarah di Desa/Kecamatan Ngetos, menyatakan, dalam ritual jamasan, ada empat pusaka desa yang diarak keliling kampung. ”Hanya orang-orang tertentu yang ikut,” ungkapnya.
Empat pusaka yang dijamas setiap Sura itu terdiri atas beberapa jenis. Di antaranya, sabit kuno di zaman kerajaan Majapahit. Pusaka tersebut menggambarkan alat yang digunakan untuk babat desa. Kemudian, ada pusaka kudi rantang yang menjadi simbol perang. Sebab, senjata itu dahulu memang dibawa untuk perang.
”Ada yang namanya tatan atau pahatan, tanda di sini (Desa Ngetos, Red) banyak empu,” lanjut Aris.
Yang paling penting adalah keris sebagai pusaka utama yang diarak saat jamasan. Keris itu sekaligus menjadi simbol jika di Desa/Kecamatan Ngetos ini dahulu ada seorang tokoh.
”Keris yang disucikan itu senjata yang dulu dibawa tokoh di zaman kerajaan,” terang Aris.
Empat pusaka itu sudah dijaga secara turun-temurun di desanya. Karena itu, Aris bersama para tokoh desa konsisten menggelar ritual jamasan alias pencucian pusaka setiap bulan Sura.
”Tradisi ini akan terus kami pertahankan,” terangnya.
Selama beberapa tahun terakhir, Desa/Kecamatan Ngetos menggelar ritual jamasan sebanyak dua kali. Selain jamasan utama yang digelar pada malam buta, mereka menggelar kirab pusaka saat siang.
Untuk jamasan yang digelar siang, mereka tidak hanya menyucikan pusaka desa, tetapi juga membersihkan pusaka milik warga desa. ”Untuk kirab siang ini sekaligus merupakan cara kami mengenalkan sejarah desa kepada generasi penerus,” bebernya.
Terpisah, Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk Amin Fuadi menjelaskan, jamasan yang juga diisi acara kirab itu sangat baik untuk generasi penerus. “Ini pendidikan yang bisa mengena ke generasi muda agar tidak melupakan tradisi leluhurnya,” terang Amin.
Selain itu, kirab pusaka saat siang itu bisa menarik minat wisatawan. Dia berharap desa-desa lain bisa menghidupkan tradisi sejarah desanya seperti yang dilakukan Desa/Kecamatan Ngetos. ”Biar sejarah desa tidak punah,” ucapnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
