Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 April 2019 | 19.44 WIB

Dari Legenda AC Milan Sampai Vladimir Putin, Reza Purbaya Terus Pertahankan Warisan Wayang Golek

Reza Purbaya pengerajin wayang golek. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos) - Image

Reza Purbaya pengerajin wayang golek. (Yogi Wahyu/ Jawa Pos)

Wayang golek sudah menjadi bagian penting dalam hidup Reza Purbaya. Bahkan,di setiap sudut rumah dipenuhi wayang. Di tengah himpitan kemajuan zaman, pria berumur 30 tahun itu, terus bertahan mempertahankan warisan, serta tradisi sebagai dalang dan pengrajin wayang golek Betawi.

YOGI WAHYU PRIYONO

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah tersebut melekat pada sosok Reza Purbaya. Darah seni sudah mengalir pada Reza Purbaya. Sepeninggal Tizar Purbaya, Reza Purbaya yang merupakan anak pertama menggeluti dan menekuni usaha yang sama seperti ayahnya yaitu wayang golek. Namun, Reza yang tinggal di kawasan Sunter Jakarta Utara memilih menekuni usaha wayang golek sesuai permintaan (custom) sebagai bentuk cintanya terhadap seni dan budaya.

Wayang golek Betawi diciptakan dan dipentaskan pertama kali oleh Tizar Purbaya yang merupakan seorang pengrajin dan pedagang barang-barang antik. Tizar bahkan sudah merintis usaha wayang golek Betawi sejak tahun 1978 di Pasar Seni Ancol. Reza mengenal wayang golek betawi sejak belia karena kerap ikut serta saat ayahnya mendalang.

Reza mulai meneruskan karya ayahnya di tahun 2015. Di tahun 2001, ia menjadi pembantu dalang. Lambat lain dia memahami cara memainkan wayang karena sering membantu ayahnya mendalang. Saat itu ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagai pewaris atau penerus ayahnya, ia rela menghabiskan masa mudanya untuk belajar wayang golek Betawi. Keseriusan Reza untuk menekuni wayang golek Betawi dimulai setelah ia lulus SMA di tahun 2004-2005.

“Ini usaha turun menurun, bisa dibilang sekarang generasi kedua. Kita produksinya wayang golek betawi," kata Pria kelahiran Jakarta 18 Agustus 1987.

Reza mengaku, dulu ia tidak tertarik wayang. Sampai pada waktu itu orangtua terlebih ayahnya capek ngasih tau. Karena disamping orangtua kerja di dunia seperti ini, anaknya justru mau ngga mau. Pikirannya berubah ketika ia melihat banyak orang luar negeri yang tertarik dengan wayang. Dari situ Reza berpikir, orang luar negeri saja suka wayang, tapi kenapa ia yang jelas-jelas ayahnya pembuat wayang dan orang Indonesia tidak suka?

Kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan usaha ayahnya. Sebagai pemula, ia sempat mengalami kesulitan melanjutkan usaha ayahnya tersebut. Ia mengaku bingung, meskipun sudah dibekali pengetahuan yang cukup dari guru dari tahun 2001. Tapi saat itu hanya sebatas ikut belum serius. Ternyata ngga segampang itu. Reza tidak tahu dalam situasi begini harus berbuat apa. Akhirnya ia sharing dengan beberapa orang yang dianggap lebih senior dan lebih mengerti tentang hal itu.

"Sekarang sudah cukup mengerti. Yang pasti awal itu bingung mau dipasarin kemana. Apa yang saya pelajari dari ayah itu ada beberapa perbedaan mulai dari modal, eranya. Jadi sekarang itu berbeda dengan dahulu saat ayah saya masih menjalani usaha ini. Banyak perubahan, dan sampai sekarang masih beradaptasi," katanya.

Reza terjun menjadi dalang bermula saat ia mendapat telepon dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Petugas dari Dinas Kebudayaan itu menanyakan kelanjutan pementasan wayang Betawi yang sebelumnua dijalankan oleh almarhum ayahnya. Merasa belum siap tampil di depan orang banyak, Reza pun meminta waktu satu tahun untuk berfikir.

Seiring berjalannya waktu, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta kembali menghubungi keluarga Reza untuk meminta kepastian. Reza yang merasa belum siap kembali meminta waktu dua hari. Bingung harus berbuat apa, Reza memutuskan untuk ziarah ke makam ayahnya di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak. Reza juga mendapat masukan dari sang ibu supaya ia mau untuk melanjutkan apa yang sudah dibangun oleh ayahnya. Sebab dulu saat ekonomi kurang mampu keluarganya bisa jalan-jalan ke luar negeri secara gratis.

Dua hari berlalu, telepon kembali berdering. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta kembali meminta kepastian. Tanpa berpikir panjang lagi, spontan Reza langaung menjawab bisa. Sementara waktu pementasan tinggal 3 bulan lagi. Pada hari itu ia belum pernah jadi dalang utama, biasanya ada dibalik layar. "Saya belum pernah bicara didepan banyak orang, bahkan ceritanyapun saya tidak terlalu hafal apa yang harus dimainkan selama tiga jam," tuturnya.

Reza terus berusaha salah satunya mencari dokumen lama, video pertunjukan dan buka youtube saat ayahnya memainkan wayang. Dua minggu sebelum tampil menjadi dalang Reza pun tumbang. Ia harus di rawat di rumah sakit karena tipes dan DBD (demam berdarah dengue). Mengetahui waktu tinggal sedikit, Reza memaksakan diri untuk keluar dari rumah sakit.

"Itu saya keluar dari rumah sakit empat hari sebelum dalang dengan kondisi yang masih pucet belum normal, keringet dingin saya minta pulang," ungkapnya.

Awal tahun 2016, tepatnya bulan Maret acara festival pekan wayang nasional di museum wayang tiba. Dimana dalang kondang semua berkumpul. Reza yang kondisinya masih belum sehat harus menjadi dalang utama pertama kalinya. Perasaannya campur aduk. "Saya main di depan pakar pewayangan. Saya ngga tau energi darimana, asal dari mana saya dapat melakukan pertunjukan selama 3 jam dengan lancar tanpa ada halangan," terangnya.

Sepengetahuan Reza, selama ini Jakarta belum memiliki wayang golek. Sebagai pengrajin wayang golek, ia ingin memberikan sesuatu untuk Jakarta yang merupakan tanah kelahirannya serta tempat mencari nafkah. Ia bersama keluarganya sudah menetap di Jakarta puluhan tahun. Sebagai warga Jakarta, ia selalu berfikir ingin memberikan apa untuk Jakarta? Hingga akhirnya, terciptalah wayang golek tersebut.

“Disamping wayang golek Betawi, kita juga membuat wayang karakter. Wayang karakter itu dalam arti, muka orang barat atau orang asing dalam bentuk wayan kita desain untuk hadiah," tuturnya.

Reza menceritakan perjalanan wayang golek Betawi dari awal hingga saat ini. Sejarah wayang Betawi itu awalnya ayahnya bekerja sebagai pembuat wayang karakter. Saat itu koleksi wayang karakter kebanyakan muka orang bule. Kemudian di tahun 1998 Indonesia terjadi kericuhan yang sangat besar. Dimana masyarakat mendesak presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden RI.

Pasca tragedi 1998 itu, ayah Reza bingung dengan wayang golek karakter yang kebanyakan muka bule. Sebab, ketika kejadian 1998, kedutaan menyuruh orang bule tersebut untuk kembali ke negaranya masing-masing. Akibatnya, wayang golek orang barat ini menumpuk dirumahnya.

"Kita jual ngga bisa, mau di apa-apain ngga bisa. Akhirnya pada tahun 1999 tercetuslah ide. Saat itu Jakarta ngga punya wayang kenapa wayang bule ini tidak dijadikan belanda atau kompeni. Dari situ kita cari ide dan kita putuskan bikin wayang golek lenong betawi dengan menganut Si Jampang Jago Betawi," terangnya.

Si Jampang Jago Betawi diisi dengan karakter kompeni, demang dan centeng. Disitu ayahnya mengubah wayang-wayang Barat menjadi jenderal kompeni. Setelah itu, tanpa sengaja ayahnya bertemu dengan Gubernur Sutiyoso. Waktu pertemuan yang tak disengaja itu dimanfaatkan oleh ayahnya untuk menuangkan ide untuk membuat wayang Betawi.

"Oh oke udah boleh" kata Reza menirukan ucapan Sutiyoso kepada ayahnya.

Sutiyoso meminta kepada ayahnya untuk membuat wayang dan diminta untuk memberitahukan apabila sudah selesai. Reza menceritakan, pada tahun 2000 akhir wayang Betawi sudah selesai di produksi dan sudah ada cerita serta lainnya. Sesuai perkataan Sutiyoso waktu itu, ayah Reza pun menemui Sutiyoso.

"Akhirnya awal tahun 2001 Pak Sutiyoso menggelar wayang golek Betawi untuk pertama kalinya. Itu lokasi di daerah VOC Pasar Ikan. Disitu dengan Pak Sutiyoso mengundang beberapa perwakilan kedutaan yang ada di Jakarta. Waktu itu kita bermain empat jam. Semenjak itulah wayang golek Betawi mulai dikenal," ingatnya.

Hingga sampai saat ini, peminat untuk wayang masih banyak. Akan tetapi mereka image pandangan soal wayang saat ini agak sedikit berubah. Dahulu mungkin orang menganggap wayang sebagai hiburan karena belum ada Televisi, Mall dan bioskop. Tapi saat ini, meski peminat masih banyak tapi tidak seperti dulu. Dimana orang yang menyukai wayang golek itu beli untuk koleksi di rumahnya.

"Saat ini paling sebatas nonton dan lihat. Tapi kalau yang masih pengin liat dan nonton saya rasa cukup banyak sampai sekarang," terangnya.

Reza mengatakan saat ini ia lebih mengarahkan entah itu wayang Betawi, sunda atau jawa ke orang lokal. Karena ia berharap bagaimana pun juga yang harus meneruskan kebudayaan ini harus orang Indonesia itu sendiri. Entah dari golongan manapun yang penting orang Indonesia dan mau meneruskan kebudayaan. Sebab, jangan sampai warga negara luar yang koleksi.

"Karena selama ini kan bahkan bisa dibilang museum terlengkap masih dipegang oleh Germany untuk wayang. Karena disana banyak sekali koleksi-koleksi yang tidak ada lagi di Indonesia atau yang ada disana," tuturnya.

Untuk itu, sebagai generasi muda Reza tidak ingin kecolongan dua kali. Kedepannya, ia mengajak generasi-generasi penerus untuk melestarikan wayang. Menurutnya melestarikan wayang bisa dengan menonton wayang, mau melihat bagaimana proses dan pertunjukan wayang. Reza merasa hal itu sudah menjadi salah satu pelestarian budaya.

Wayang-wayang golek betawi saat ini dibuat oleh Reza sendiri. Jika dulu ayahnya yang memelopori, kini Reza dibantu Yakub dan Maman, dia membuat wayang golek dari kayu dan menjahit pakaiannya sendiri. Karakternya beragam mulai dari tokoh lokal hingga kompeni Belanda. Di rumahnya juga terdapat ribuan wayang golek, jumlahnya tak kurang dari 5.000 buah yang disimpan di ruang tamu, ruang makan, hingga kamar tidur. Terkesan seisi rumah dipenuhi wayang golek.

"Dulu sampai 10.000 buah, sebagian dijual keluar negeri dan museum," ujar Reza.

Reza mengaku untuk wayang golek dan Wayang karakter sudah kerap di ekspor ke luar negeri. Seperti, Inggris, Belanda, Germany, Amerika dan Australia. Sementara untuk wayang betawi tidak ekspor, karena jumlahnya tidak banyak. "Untuk jumlahnya engga nentu. Kalau dalam satu bulan sekitar 3-4 unit. Pemesanan bervariasi. Saat ini kita sedang membuat wayang Wali Songo," tuturnya.

Dalam membuat wayang Reza menggunakan kayu Pule. Pohon Pule banyak di daerah Padalarang dan Purwakarta. Menurutnya pohon Pule tidak gampang kena rayap atau kutu. Disamping itu wayang dibuat dengan cara di ukir, dengan kualitas kayu Pule yang memiliki serat yang halus dan tidak ada bulu serta empuk dapat mempermudah proses pembuatan.

"Kayu ini seratnya kecil-kecil, jadi saat kita ukir itu gampang. Saat di dasari cat tembok terus kita amplas itu seratnya ketutup semua dan licin. Untuk itu kita gunakan kayu pule dan enak untuk dipegang. Beratnya pas," terangnya.

Tidak hanya itu, kayu Pule juga memiliki kualitas yang bagus. Apabila tidak terkena air atau banjir dan udara lembab serta matahari akan tahan lama. Bahkan wayang milik Reza dari tahun 1991 masih utuh hingga saat ini. Ketahanan kualitas wayang tergantung penyimpanannya.

Sementara, pada proses pembuatan wayang tentunya tidaklah mudah. Reza mengganggap wayang golek klasik tidak ada tingkat kesusahan karena itu sudah biasa dibikin. Tapi untuk wayang Betawi kesulitan ada pada bagaimana mekanisme sampai semua itu bisa bekerja. Seperti mulut dan hidung bisa bergerak, hidungnya bisa panjang serta mata bisa keluar.

Untuk wayang karakter kesusahan lebih tinggi karena berbasic pada foto. Dimana dalam pembuatan wayang ia hanya berpedoman pada foto. Sementara foto hanya memiliki dua dimensi dan wayang dibuat menjadi tiga dimensi. "Kita tingkat kesusahannya, wayang itu bisa sesuai dengan orang aslinya. Padahal kita hanya berpedoman sama foto. Itu susah, karena mesti detail. Banyak tingkat kesusahannya, banyak yang coba bikin hasilnya gagal," ujarnya.

Reza menjual wayang karakter antara Rp 3 juta - Rp 3,5 juta per buah. Harga ditentukan bukan karena tungakt keslitan. Tapi yang membedakan harga adalah seberapa cepat wayang itu harus selesai. Sedangkan pembuatan wayang paling cepat 12-13 hari. Terkadang ada kolektor yang minta 7-5 hari selesai.

"Nah disitu biasanya kita patok harga 3,5 juta. Karena pengerjaan kita harus menambah pegawai. Bahkan pernah ada yang bayar Rp 4,5 juta dengan 4 hari selesai," tuturnya.

Di tahun 1991 pemain legendaris AC Milan Roberto Donadoni pernah dibuatkan wayang karakter. Kemudian ada mantan Presiden Amerika Barack Hussein Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Tidak hanya luar negeri, wayang hasil karyanya juga sudah banyak dipesan oleh pejabat Indonesia. Seperti Aburizal Bakrie dan istrinya untuk hadiah ultah, Fauzi Bowo, Prabowo, Fadli Zon, Presiden Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama dan lainnya.

Saat ini ada cita-cita yang belum kesampaian oleh Reza. Ia ingin wayang ini dikenalkan ke Sekolah Dasar (SD) yang ada di Jakarta. Karena sangat penting memperkenalkan wayang golek ini sejak dini. Kebudayan asli Indonesia. Untuk membuka imajinasi, mengubah image mereka bahwa wayang itu adalah suatu hiburan bukan benda yang mistis.

Sebab Reza banyak mendengar beberapa orangtua mengajarkan anaknya wayang itu mistis. Dimana kalau malam suka bergerak sendiri, bisa datang ke mimpinya. "Jadi inilah yang pengin saya coba rubah image ini di anak-anak. Menjadi tontonan yang lucu seperti dulu," tutupnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore