
Suasana saat pengendara melintas di Sasak Warna Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Majalengka, Jawa Barat.
JawaPos.com - Sasak Warna Desa Bantarwaru semakin mempercantik wilayah utara Majalengka, Jawa Barat. Nuansa cerah tersebut hasil karya puluhan pemuda di bawah Karang Taruna Tunas Bangsa. Mereka selama tiga hari mengecat sasak atau jembatan hasil dari swadaya.
Trend mempercantik wilayah tempat tinggal memang banyak dilakukan pemuda di sejumlah tempat. Tujuannya, tak lain untuk menambah daya tarik Desa setempat.
Apalagi di Majalengka bagian utara telah beroperasi Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Bantarwaru sebagai desa penyangga, tentu mempersiapkan diri.
Akhir-akhir ini, kesadaran masyarakat di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat untuk mempercantik desanya semakin menggeliat. Mempersolek fasilitas umum seperti sasak (jembatan), adalah salah satu cara yang dilakukan masyarakat agar desa yang ditinggalinya lebih enak dipandang mata.
Ketua Karang Taruna Desa Bantarwaru Saepulloh mengatakan, pengecatan dilakukan tiga hari. Sejak Sabtu (30/3) hingga Senin (1/4). Mereka sukses menyulap sasak yang memiliki panjang sekitar 30 meter itu lebih sedap dipandang dibanding sebelumnya.
"Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pengerjaan pengecatan ini. Salah satunya kampanye lingkungan," kata Saepulloh, Selasa (2/4).
Menurutnya, saat ini masyarakat masih banyak membuang sampah di sungai. Dia berharap, dengan cara tersebut bisa mengubah kebiasaan buang sampah ke sungai.
Dia tidak menampik pengecatan sasak itu mengikuti kebiasaan yang sekarang sedang tren. Yakni, membuat titik yang bisa dijadikan untuk swafoto.
"Sekarang ini kan swafoto lagi digandrungi banyak orang. Nah, ketika sasak itu banyak yang foto-foto, barangkali yang biasa buang sampah di sungai juga sungkan," papar dia.
Tidak kalah pentingnya, yang swafoto di sasak juga tidak membuang sampah sembarangan. Memang belum disediakan tempat sampah, tapi dia berharap bisa dengan cara lain.
"Mungkin sampah bekas bungkus camilannya bisa dikantongi dulu, kemuidan dibuang di tempat yang layak," ujarnya.
Ke depan dia berharap bisa juga melakukan hal yang sama di sasak-sasak lainnya di Desa Bantarwaru itu. Desa Bantarwaru tercatat sebagai desa yang memiliki sasak paling banyak, yaitu empat.
"Kami ingin nantinya pengecetan juga dilakukan di tiga sasak lainnya. Dari sana, harapannya akan ada ide-ide lain yang bisa muncul," kata dia.
Kecamatan Ligung berada di bagian utara Kabupaten Majalengka. Kecamatan tersebut merupakan kecamatan perbatasan antara Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu.
Sebagai daerah perbatasan, masyarakat di kecamatan itu menggunakan dua bahasa dalam aktivitas sehari-harinya, yakni Sunda dan Jawa. Kondisi itu menjadi inspirasi dari penggunaan warna untuk pengecatan sasak itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
