Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Maret 2019 | 06.30 WIB

Mahfud MD: Ini Tak Terkait Paslon 01 atau 02

Kegiatan Sarasehan Kebangsaan di salah satu Hotel di Pekanbaru, Riau, Sabtu (30/3). - Image

Kegiatan Sarasehan Kebangsaan di salah satu Hotel di Pekanbaru, Riau, Sabtu (30/3).

JawaPos.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD, menghadiri kegiatan Sarasehan Kebangsaan di Pekanbaru, Riau, Sabtu (30/3). Mahfud menyebut, kegiatan yang sudah dilangsungkan di beberapa daerah di Indonesia ini, tidak ada kaitan dengan politik.


"Forum ini adalah forum tak terikat pada kekuatan politik tertentu. Ini bukan pro paslon 01 dan 02, ini forum kita. Soal saudara pilih yang mana, itu masing-masing Anda, kita di sini bersatu memikirkan bangsa," ujarnya.


Mahfud mengatakan, tantangan sudah makin terasa dengan maraknya potensi perpecahan dari komponen bangsa. Seperti maraknya politik identitas sehingga orang/kelompok dapat menyerang orang/kelompok lain tapi sama-sama mengklaim sebagai penjaga identitas primordial yang sama. 


Padahal, dalam kondisi yang berbhinneka, rakyat Indonesia membutuhkan wawasan kebangsaan yang majemuk menghajatkan keseimbangan (equibrium) diantara agama, politik, ekonomi dan kebudayaan agar dapat menangkal paradox dari kemajemukan yaitu premurdialisme, etnosentrisme, sekterianisme, stereotipisme, dan potensi konflik sosial.


"Saya bersama Alissa Wahid, Benny Susetyo, Ajar Budi Kuncoro, Imam Marsudi dan Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin mulai menggagas suluh kebangsaan ini. Gagasan ini mendapatkan dukungan yang sangat besar dari para tokoh-tokoh," bebernya.


Mahfud menambahkan, kegiatan yang dirangkum adalah meramu gagasan untuk menggiatkan elemen-elemen bangsa untuk menjaga keutuhan NKRI dalam wujud sebuah gerakan bersama yang lebih mengedepankan dialog, menjunjung tinggi kebersamaan, dan menghargai kebhinekaan dalam bingkai NKRI.


Agar unsur apapun yang bergerak di bumi Nusantara ini tetap mengacu pada keutuhan NKRI.


Lebih lanjut, Mahfud mengatakan, ada 3 tujuan utama gerakan suluh kebangsaan. Yakni menguatkan kembali Ikrar mengawal Pancasila sebagai azas kebangsaan yang final dan kokoh dengan membincangkan masalah-masalah apa yang berpotensi melemahkannya. 


Selanjutnya, meneguhkan kembali bahwa Kebhinekaan adalah kodrat yang perlu disyukuri dan dirayakan sebagai anugerah dari Kebangsaan. Yang perlu dibincangkan adalah aspek-aspek “pembeda” apakah yang mengganggu “perbedaan” yang selama ini mampu dirangkai sebagai mosaic yang indah dan membahagiakan.


Terakhir, merawat moderasi keagamaan yang telah melahirkan ‘jembatan emas’ sekaligus pondasi kebangsan yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 .


"Saya keliling berbagai daerah di Indonesia,Kita kumpulkan 50 orang saja,  karna orang seperti saya ini tak bisa bicara didepan ribuan orang. Tapi ini adalah para suluh, yang bisa berikan penerangan suaranya, yang nanti seyelah diskuai ini bisa didengarkan puluhan ribu orang diluar sana," pungkasnya.


Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore