Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Februari 2019 | 14.59 WIB

Sembahyang Imlek, Warga Tionghoa Ingin Surabaya Bebas Banjir

Umat Kong Hu Cu melaksanakan ritual sembayang serentak di Klenteng TITD Hong San Ko Tee (Klenteng Cokro). - Image

Umat Kong Hu Cu melaksanakan ritual sembayang serentak di Klenteng TITD Hong San Ko Tee (Klenteng Cokro).

JawaPos.com - Seluruh warga Tionghoa dan umat Kong Hu Cu di Surabaya melaksanakan sembayang Imlek, tepat pukul 00.00 WIB, Selasa (5/2). Mereka melaksanakan ibadah secara serentak. 


Salah satunya, ritual sembahyang Imlek di Klenteng TITD Hong San Ko Tee (Klenteng Cokro). Tampak warga Tionghoa yang mulai berseliweran dan sembayang di klenteng tersebut sejak pukul 21.00 WIB. 


Mereka berdoa untuk semua anggota keluarga, lancar rejeki, dan keselamatan bagi semua orang. Tak hanya warga, ada kelompok Barongsai Suryanaga, yang juga melakukan ritual sembahyang dan menampilkan atraksinya. 


Pengurus Klenteng Cokro Sudiman mengatakan, untuk awalan, ada prosesi sembahyang perorangan, atraksi barongsai, dan sembahyang bersama. Setelah itu, akan ada Dewa Rejeki yang membagikan angpao untuk pengunjung. 


"Jam 12.00 malam, sembahyang bersama. Setelah itu, ada Dewa Rejeki yang bagi-bagi angpao untuk umat Kong Hu Cu di sini," kata Sudiman kepada JawaPos.com, Senin (4/2). 


Tak ada perbedaan yang signifikan antara ritual sembahyang tahun-tahun lalu, dibanding 2019 ini. Sudiman mengatakan, yag berbeda hanya pengunjungnya. 


Dia memperkirakan, umat yang sembahyang di klenteng tersebut, lebih banyak ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, karena hujan tahun ini tidak selebat tahun lalu yang hingga mengakibatkan banjir. 


"Sebenarnya, sembahyang Imleknya sama saja dengan tahun lalu. Bedanya, kalau tahun lalu hujan deras. Sampai banjir. Kalau sekarang, hujan tapi nggak sampai banjir," kata pria yang akrab disapa Akiong itu. 


Sementara, namanya sembahyang, ada doa dan harapan tiap umat yang berkunjung. Biasanya umat Kong Hu Cu berdoa untuk semua anggota keluarga, lancar rejeki, dan keselamatan. 


Misalnya, Stefanie Wijaya, 28. Dia berdoa untuk keluarganya dan kota Surabaya. Dia berharap, Surabaya tidak lagi dilanda banjir. 


"Doanya biar 2019 samkin lancar. Tambah enak (hidupnya). Doa buat keselamatan keluarga juga. Sebagai warga Surabaya saya berharap makin aman. Nggak ada banjir," kata Stefani. 


Sama halnya dengan Jeffry Sasono, 53, warga Jalan Cokroaminoto. Dia juga juga berdoa untuk keselamatan keluarga, Indonesia aman, dan segala sesuatu yang baik. 


Dia juga berdoa bagi Pemilu 2019. Dia ingin Pemilu 2019, berjalan lancar. Tidak ada pertikaian apapun meski pilihannya berbeda. 


"Presiden itu pilihan masyarakat. Kebebasan yang utama. Dan yang penting dapat memimpin negara ini dengan baik. Mau Prabowo mau Jokowi, yang penting aman," katanya. 



Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore