
Sejumlah warga bermain dan beraktivitas di sekitaan tumpukan limbah kerang hijau di Jalan Kalibaru Timur, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (24/1).
JawaPos.com - Kampung kian kumuh. Hal itulah yang menjadi pemandangan ketika mengunjungi Kampung Kerang Hijau, Kelurahan Kali Biru, Cilincing, Jakarta Utara. Sampah kian menumpuk sehingga udara di kawasan tersebut sudah tak sehat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Isnawa Adji menegaskan bahwa pihaknya sudah membersihkan sampah di Kampung Kerang Hijau. Menurut dia, hal itu terbukti, jika selama ini pihaknya hanya tinggal diam, jumlah sampah di sana tak seperti saat ini.
"Itu kan memang daerah begitu. Tapi, sampah rutin diangkat sebetulnya. Enggak mungkin yang namanya kerang kami diamkan, pasti dibersihkan terus. Kalau enggak pernah dibersihkan, ya enggak segitu lagi, mungkin sudah 5 meter,’’ katanya kepada Jawa Pos kemarin (27/1).
Dia membantah adanya keluhan warga yang menyatakan selama ini tak ada tindakan dari Pemprov DKI dalam penanganan sampah di Kampung Kerang Hijau.
Menurut dia, banyak sampah hingga menumpuk lantaran lokasi tersebut merupakan kawasan pemberdayaan kerang hijau. Karena itu, dibutuhkan waktu yang lebih lama. ’’Enggak ada istilah enggak ada penanganan. Suatu lokasi tidak mungkin tidak kami tangani, kan itu memang penghasil kerang. Sampahnya banyak, nggak mungkin selesai satu atau dua hari,’’ tandasnya.
Selama ini, kata dia, pihaknya menyediakan tempat pembuangan sampah umum (TPSU) dan gerobak motor untuk penanganan sampah di sana. ’’Nggak mungkin di Jakarta ada sampah kami diemin berbulan-bulan. Di situ, kan areanya juga dinas perikanan. Pasti mereka juga punya petugas. Ada TPSU. Ada pengolah kawasan. Kami bekerja sama untuk pengolahan sampah,’’ urainya.
Isnawa mengetahui persoalan sampah tersebut sejak lama. Menurut dia, sampah di sana harus ditangani secara bersama-sama. Yakni, adanya kerja sama berbagai pihak.
’’Harus ada komunitas masyarakatnya. Harus ada asosiasi atau kumpulan nelayan-nelayan. Kan mereka harus terlibat semua. Mereka enggak boleh egois. Hanya hasilnya, terus ditinggal. Kalau sampahnya banyak, baru mengeluh ke mana-mana. Kita harus bersama-sama menyelesaikannya,’’ jelasnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Lingkungan Hidup Kecamatan Cilincing Mahmunir mengatakan, pelayanan sampah di Kampung Kerang Hijau selama ini dilakukan, tetapi belum menyeluruh. Pihaknya baru melakukan hal tersebut di kawasan yang masih bisa dijangkau.
’’Kalau itu, kami memang layani yang dari depan. Yang ke belakang belum. Dulu mau kerja sama dengan Wika (pihak swasta pengelola tanggul di kawasan itu). Cuma belum terealisasi,’’ jelasnya.
Untuk menangani sampah, lanjut dia, pihaknya membutuhkan bantuan alat berat. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dulu dengan Sudin LH Jakarta Utara. ’’Dulu pernah mau saya layanin, tapi tak ada kendaraan. Kalau sudah ada alatnya, akan dilakukan rutin,’’ katanya.
Tumpukan sampah berawal sejak ada pembangunan tanggul atau dam pembatas rumah warga. Sebelum ada bangunan itu, kata dia, warga kerap membuangnya di laut. Selama ini, terkait penanganan, akses jalan di kawasan itu sulit. ’’Ternyata, masyarakat buangnya tetap di belakang. Kami kesulitan untuk ke sana,’’ ujar Mahmunir.
Belum lama ini, kata dia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI AL dan Wika untuk pembukaan akses. Dengan begitu, sampah tersebut bisa secepatnya ditangani. ’’Kalau sudah ada bukaan akses, kami akan rutin di situ. Yang tumpukan harus pakai alat. Kami juga sudah bicara dengan camat, termasuk masalah kulit kerang karena perlu penanganan juga,’’ ungkapnya.
Mahmunir menuturkan, dirinya tengah mengusulkan kepada DLH agar kulit kerang ditangani dengan didaur ulang. ’’Perlu mesin pencacah, kan bisa buat pemadatan. Saya ngusulin lahan pengolahan dan ada lahannya,’’ ucapnya.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Walhi DKI Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi mengungkapkan, penumpukan sampah di Kampung Kerang Hijau merupakan bentuk ketidakmampuan Pemprov DKI dalam menangani sampah. Sebab, sampai saat ini, belum ada penanganan sampah berdasar karakteristik.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
