
Ilustrasi: Alquran
JawaPos.com - Namanya Muhajir Amri. Dia akan mengikuti lomba tingkat internasional. Ya, bukan di Majene, pun di Papua Barat lagi. Hajir--sapaan akrabnya--bakal mengikuti Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ). Perlombaan tersebut digelar di Aljazair, pekan depan. Hajir akan melanjutkan potongan-potongan ayat dari juri internasional.
Meski sudah bertabur piagam dan piala lomba tingkat lokal dan nasional, Hajir masih saja merendah. Dia mengakui, saingannya sangat berat. "Bahasa Arab kan sudah menjadi makanan sehari-hari mereka," kata Hajir yang ditemui di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Al Imam Ashim, sebagaimana dikutip dari Fajar (Jawa Pos Group), Selasa (5/6).
Apalagi, informasi yang diterimanya, ada 50 negara yang bakal bersaing. Tak terkecuali Arab Saudi. Persertanya muda-muda pula. "Saya komunikasi dengan teman di Dubai yang sedang ikut lomba. Bangladesh mengirim peserta yang umurnya 13 tahun," beber dia.
Hajir memang paling mewaspadai negara Asia Selatan itu. Jawara internasional memang kerap kali jatuh ke tangan pemuda Bangladesh. "Di Mekkah dan Dubai saja, Bangladesh juara," ungkapnya.
Namun, pemuda berusia 23 tahun itu mengaku tidak memiliki persiapan khusus sebelum berangkat ke Aljazair. "Istiqamah, bersungguh-sungguh, dan memperlancar hafalan saja," ujarnya sambil tersenyum.
Toh, dia juga tak menyangka terpilih ke negara Afrika Utara itu. Apalagi dia hanya menyabet juara tiga dalam Seleksi Tilawatil Quran (STQ) nasional cabang hifdzil quran di Tarakan, tahun lalu. "Ternyata yang juara dua ke Dubai, juara tiga ke Aljazair. Juara satunya ke negara lain lagi," kata Hajir.
Bungsu empat bersaudara itu merupakan pemuda asal Gowa. Namun, Hajir tak mewakili kampungnya pas masuk tiga besar nasional. Malah bersaing di pulau lain. "Saya ikut lomba di Papua Barat. Alhamdulillah dapat juara satu. Kalau di Sulsel, rata-rata saya hanya juara tiga," ungkap dia.
Perjuangannya untuk menjadi hafiz pun tak mulus. Sempat beberapa kali pindah madrasah. Bahkan rela meninggalkan Pondok Modern Darussalam Gontor demi tetap mengejar asanya. "Tamat madrasah tsanawiyah, saya pengen menghafal sambil sekolah. Ternyata di Gontor tidak ada hafalan," ungkap dia.
Hajir pun kembali ke Makassar, lalu memilih Tahfizhul Quran Al Imam Ashim di Tidung Mariolo. Tiga tahun belajar tahfiz. Selesai tahun 2013.
Menurut Hajir, menjadi hafiz memang tak mudah. Kuncinya, sering mengulang-ulang hafalan. "Saya saja biar sementara ngantre di kamar mandi, masih mengulang-ulang hafalan," katanya, lalu tertawa kecil.
Hajir pun berbagi resep menghafal. Satu bulan, satu juz. Satu jam per halaman. "Ingat, mesti diulang-ulang. Di sini saja, menghafal jam 07.00, sudah dilupa jam 09.00," ungkap putra pasangan Alimuddin-Hadira itu.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
