
KH Nahduddin Royandi Abbas.
JawaPos.com - Keluarga Besar Pondok Pesantren Buntet, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar), berduka. Sesepuh Pondok Pesantren Buntet KH Nahduddin Royandi Abbas telah wafat. Ulama yang akrab disapa Mbah Din itu menghembuskan nafas terakhir di Barnet Community Hospital, London, Inggris, Rabu (25/4).
Menginjak usia ke-84 tahun, Mbah Din wafat setelah beberapa hari terakhir menjalani perawatan intensif. Sebelum menghadap Sang Khalik, Mbah Din bermimpi bertemu dengan ayahnya, Kiai Abbas bin Abdul Jamil. Seperti diketahui, Kiai Abbas merupakan ulama Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus Pahlawan Nasional.
"Sebelum dirawat, Mbah Din bermimpi bertemu dengan ayahandanya Kiai Abbas. Pertemuannya pun diantar kakak-kakaknya. Mungkin itu firasat beliau," ujar cucu dari Mbah Din, KH. Jimmy Mu'tashim Billah atau Kang Nemi kepada JawaPos.com, Rabu (26/4).
Informasi dari istri Mbah Din, Hj. Fadliyah, pihak keluarga sedang mengurusi surat kematian dari Council Barneth di Borough. Proses penerbitan sertifikat tersebut memakan waktu cukup lama. Sekitar 3-4 jam.
Setelah Council Barneth mengeluarkan sertifikat, pihak Masjid Hendon baru bisa mengambil jenazah Mbah Din dari rumah sakit. Selanjutnya, jenazah akan dibawa ke Morgue Masjid untuk dimandikan, dikafani dan disalatkan.
"Setelah disalatkan, kemudian jenazah Mbah Din dipulangkan. Karena waktu setempat masih pagi hari, maka kemungkinan jenazah akan tiba di Masjid Buntet Pesantren pada Minggu pagi," ungkapnya.
Kepergian Mbah Din memberikan duka yang mendalam. Bukan hanya bagi keluarga dan masyarakat Cirebon saja. Ulama kharismatik itu sangat dicintai umat Islam di Indonesia. Khususnya warga NU.
Nemi menceritakan, Mbah Din sudah 56 tahun tinggal di London, Inggris. Tepatnya sejak 1959. Sejak usia 18 tahun, Mbah Din menimba ilmu kepada dua ulama Nusantara terkemuka di Masjidil Haram, Kota Makkah Al-Mukarramah. Yakni, Yasin Alfadangi dan Syekh Hamid Albanjari.
Lama menetap di Britania Raya, tidak menghentikan semangat Mbah Din dalam berdakwah Islam dan mengenalkan kehidupan pesantren di Indonesia kepada masyarakat setempat. Khususnya ekpada komunitas muslim dari India, Pakistan dan Bangladesh.
"Kami sudah kehilangan orang tua kami, teladan kami, panutan warga NU di penjuru Nusantara. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah, dan ilmunya selalu bermanfaat," tuturnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
