Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 April 2018 | 16.05 WIB

Kisah TKW Jadi Korban Perbudakan Modern di Inggris

Anak sulung Parinah, Sunarti menunjukan surat beserta foto yang dikirimkan ibunya sejak 18 tahun lalu. - Image

Anak sulung Parinah, Sunarti menunjukan surat beserta foto yang dikirimkan ibunya sejak 18 tahun lalu.

JawaPos.com - Kasus perbudakan di luar negeri dengan bungkusan tenaga kerja Indonesia (TKI) tidak pernah habisnya. Kali ini dialami Parinah, Desa Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Dia dikabarkan menjadi korban modern slavery di Brighton, Inggris. TKI yang kini berusia 50 tahun itu sedang dalam pemulangan kembali ke Indonesia.


Sunarti, 35, anak sulung Parinah, menceritakan bahwa ibundanya pergi ke Arab Saudi pada 1999. Dia berangkat bersama salah seorang temannya melalui jasa penyalur di Jakarta. Tetapi, setelah bertahun-tahun, Parinah tidak pernah ada kabar. Bahkan, teman karibnya yang berangkat bersama ibunya hanya bertahan empat bulan. Dia pulang lantaran tidak betah.


"Ibu baru kirim surat pada 2005. Isi suratnya, malah minta tolong dibantu pulang, tidak betah di sana," kata dia sambil menunjukkan surat pertama ibunya yang masih tersimpan rapi. Kabarnya, sejak 2004 Parinah tidak berada di Saudi, tetapi dipekerjakan di Inggris.


Lantaran masih kecil dan tak tahu prosedur pemulangan ibunya, Sunarti tidak melakukan upaya apa-apa. Dia dan kedua adiknya, Parsin (kini berusia 33) dan Nur Hamdan (saat ini 29 tahun), saat itu hanya kebingungan. "Cuma ada petunjuk kartu nama majikan. Ada juga nomor telepon yang bisa dihubungi," ujar dia.


Pada 2005 itu, Parinah berkirim surat disertai bukti transfer ke rekening Bank BRI milik adik Parinah. Kebetulan ketiga anak Parinah dirawat oleh orang tuanya dibantu adik Parinah lantaran sudah berpisah dengan suami. "Pernah kirim 500 poundsterling. Tapi, kata pihak bank, uang itu tidak masuk. Padahal, itu kiriman pertama dari Ibu," tutur dia dengan mata berkaca-kaca.


Surat kembali dilayangkan 13 tahun kemudian. Parinah yang diketahui bekerja kepada dr Alaa M. Ali Abdallah berkirim surat pada 18 Januari 2018. Surat dengan tulisan tangan di sebuah kertas putih berlogo klub sepak bola di London, Inggris, itu diterima keluarga pada 28 Januari 2018.


Lagi-lagi Parinah meminta pertolongan keluarga untuk dijemput atau dipulangkan. Dalam surat berisi selembar uang 20 poundsterling itu, Parinah mengaku tidak betah. Ingin pulang lantaran suatu alasan yang tidak dapat disebutkan dalam surat itu. "Di suratnya, Ibu akan cerita semua yang dialami setelah pulang ke Indonesia," ujar Parsin, anak kedua Parinah.


Setelah membaca semua isi surat itu, Parsin dan adiknya, Hamdan, memberanikan diri pergi ke Kantor Imigrasi Cilacap. Kantor tersebut itu dituju lantaran dahulu sang ibu memperoleh paspor di situ.


"Dua hari berturut-turut sejak 29 Januari kami ke Cilacap mengurus pemulangan ibu. Karena PJTKI penyalur ibu sudah tutup, teman Ibu yang berangkat bareng ke Arab (Saudi) saya ajak," ujar Parsin


Meski tidak lama bekerja di Saudi, hanya empat bulan, teman Parinah itu membantu banyak. Berawal dari keterangannya, informasi majikan Parinah mulai dikantongi petugas. Setelah melapor ke Kantor Imigrasi Cilacap, Parsin dan Hamdan mulai menemukan titik terang. Keduanya mendapat arahan ke mana dan bagaimana membantu pemulangan ibunya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore