Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Desember 2017 | 14.50 WIB

Kisah Program Bayi Tabung dari Pasangan Beda Negara

PASANGAN BEDA NEGARA: Gary Cooper (kedua kanan) dan Muntini (kedua kiri) bersama Atiqa Zelina Cooper (kiri) dan Zinia Nabila Cooper. - Image

PASANGAN BEDA NEGARA: Gary Cooper (kedua kanan) dan Muntini (kedua kiri) bersama Atiqa Zelina Cooper (kiri) dan Zinia Nabila Cooper.

Pernah menjalani program vasektomi beberapa tahun sebelum menikah, membuat Gary Cooper, warga negara Australia harus menempuh program bayi tabung untuk mendapatkan keturunan bersama istrinya, Muntini.


RIZKI HADID, Balikpapan


Dengan perjuangan panjang dan penuh keyakinan, serta tekanan psikologis, pasangan itu akhirnya berhasil mendapatkan keturunan. Bahkan anak yang dilahirkan Muntini kembar pula.


Upaya ini bermula dari usai pernikahan Muntini dengan Gary Cooper memasuki usia ketiga tahun. Ketika itu batin Muntini begitu kuat agar mendapatkan keturunan. Namun keinginan itu sempat terhalang, karena suaminya ketika berada di negara asal mengikuti program vasektomi. Program ini dianggap yang lumrah di negeri kangguru tersebut.


Hingga akhirnya pada 2007, pasangan yang tinggal di Jalan Pupuk Utara, Balikpapan Selatan itu memutuskan untuk mendatangi seorang dokter di Kota Minyak. Keduanya pun menyampaikan hajat ingin punya anak. Sehingga Muntini diberi vitamin oleh dokter. Sedangkan Gary dilakukan pembedahan testis. Tapi usaha itu tak membuahkan hasil.


Dokter tersebut kemudian memberi rujukan ke dr Aucky Hinting di Surabaya. Niat pun dimantapkan keduanya untuk ke Kota Pahlawan tersebut. Akhirnya mereka bertemu di tempat kerja dr Aucky di Siloam Hospitals Surabaya.


Dia sang dokter menyarankan program bayi tabung. Kala itu usia Muntini menginjak angka 33 tahun dan Gary 56 tahun. Dia bilang tak masalah selama hormon dan kandungan bagus. Aucky menyebut keberhasilan sekitar 45 persen. Pasangan suami-istri yang menikah pada 2004 itu mantap memilih program bayi tabung.


Kemudian mereka melakukan serangkaian tes kesehatan. Begitu dinyatakan klir, maka proses bayi tabung bisa dimulai. Dengan segala kecemasan yang menghantui, Muntini dan Gary pada Desember 2007 memulai program bayi tabung bersama dr Aucky.


Dikatakan dokter, kemungkinan anak yang lahir tersebut adalah kembar dua atau tiga. Muntini merasa tertekan. Begitu banyak perawatan yang mesti dijalani. Seperti pengambilan darah dua hari sekali dan pemeriksaan kandungan tanpa henti selama dua pekan pertama. Ada obat yang disuntik ke perut dan tangan.


Dengan suntikan hormon, indung telur Muntini bisa tumbuh 20 sel telur. Kemudian diambil tujuh sel telur yang sesuai ukuran. Setelah itu, dipilah lagi mana yang bagus. Sel telur pilihan tersebut disatukan dengan sperma dan akan menjadi embrio.


Akhirnya, Muntini mendapatkan lima embrio. Dari lima itu, tiga embrio ditanam, sisanya disimpan. Setelah ditanam, selama 14 hari dokter memantau dengan menyuntik penguat rahim. Muntini harus bed rest. Namun hasilnya masih nihil. Batin Muntini terpukul. Dia minta dokter untuk jeda. Masih ada dua embrio yang disimpan dokter dan bisa digunakan kemudian hari.


Muntini berusaha menyegarkan pikirannya. Enam bulan kemudian dia melanjutkan penanaman embrio yang tersisa. Namun dokter mengabarkan ada masalah pada hormon. Sehingga Muntini sulit hamil, sekalipun dengan cara normal.


Dokter memberikan obat supaya rahim siap. Setelah rahim oke, giliran embrio yang bermasalah. Kata dr Aucky, kualitas embrio sudah tidak bagus. Kalau dipaksa anak yang dikandung rentan bermasalah.


Dia sempat protes ke dokter. Kenapa hanya dalam enam bulan embrio sudah rusak? Padahal pada umumnya usia embrio bisa bertahan hingga tiga tahun. Dokter menjelaskan kualitas embrio itu kembali lagi dari kondisi masing-masing pasangan. “Ibu ikhlaskan saja. Embrio ini kami musnahkan. Nanti ibu mulai lagi,” ujar Aucky kala itu.


Muntini pasrah karena ucapan tersebut datang dari bibir orang profesional. Dia kembali meminta jeda. Sebab, dia sudah membayangkan betapa melelahkannya harus mulai dari awal lagi. Muntini hampir putus asa. Di antara kegamangan itu, dia mengajak Gary yang mualaf untuk umrah. "Kami pilih umrah untuk berdoa. Kalau sekadar liburan dan belanja, kembali ke kamar jadi ingat sakit lagi,” sebut dia.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore