
Salah satu keris di bursa dan pemeran keris di Museum Keris, Solo.
JawaPos.com - Sebagai senjata tradisional yang usianya sudah ratusan bahkan ribuan tahun, menjadikan keris tidak mudah didapatkan. Apalagi jika keris tersebut hasil penemuan atau penarikan dari dalam tanah. Butuh perjuangan yang tidak gampang untuk bisa mendapatkannya.
Pedagang keris Bambang Hariono mengatakan, untuk proses pencarian butuh waktu sampai berminggu-minggu. "Kalau yang paling lama itu satu bulan," terangnya kepada JawaPos.com di sela pameran dan bursa keris di Museum Keris, Kota Solo, Sabtu (2/12).
Waktu satu bulan itu belum tentu berhasil mendapatkan sebuah keris. Melainkan hanya untuk menentukan titik lokasi pencarian saja. Makanya, Bambang tidak sendirian saat melalukan pencarian. Kadang mengajak seorang teman atau beberapa orang. "Kalau biasanya dua orang, tetapi kadang juga tiga orang. Tidak tentu," katanya.
Sebelum ada pelarangan penggunaan mesin sedot, Bambang tidak begitu kesulitan saat menggali keris yang terpendam. Karena cukup menggunakan alat tersebut keris dapat diangkat dengan lebih mudah.
Namun, penggunaan mesin sedot bisa merusak lahan sehingga dilarang. "Tapi Kalau sekarang penggunaan alat sedot sudah tidak diperbolehkan. Jadi penggalian dilakukan secara manual. Padahal kedalaman kadang ada yang sampai tiga meter," ungkap Bambang.
Tetapi, tidak semua keris yang dimiliki Bambang adalah hasil pencariannya sendiri. Kadang ada petani atau penemu keris datang kepadanya untuk menawarkan keris temuannya. Keris yang ditemukan oleh para petani biasanya karena ketidaksengajaan. Saat mereka menggali tanah dan tidak sengaja menemukan keris.
"Kebanyakan para petani tidak sengaja menemukan atau tukang-tukang bangunan yang terjun langsung untuk mencarinya. Mereka mengantarkan ke rumah saya. Jadi ada yang sengaja mencari, ada yang secara kebetulan," ungkapnya.
Untuk lokasi pencarian keris, pria 49 tahun itu mengaku sudah menjelalah ke berbagai daerah. Seperti di daerah Kediri, Trenggalek, daerah Singosari Malang, Mojokerto. "Kebanyakan sungai Brantas daerah Tulungagung, Kedung Buaya Putih, dan daerah lainnya," tandas Bambang.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
