
Widodo, dengan hasil budi daya madu Klangceng
JawaPos.com -- Mungkin nama madu lanceng atau klanceng yang dihasilkan dari lebah Klanceng (Trigona Spp) masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Padahal, sejatinya madu ini sudah ada sejak lama. Bahkan ada yang menyebutnya lebah lanceng sudah ada sejak jutaan tahun silam. Jika biasanya, madu memiliki rasa manis. Tetapi, tidak dengan madu lanceng. Madu jenis ini justru memiliki rasa yang agak masam dan keras. Dan sangat berbeda dengan jenis madu lainnya. Selain itu, madu jenis ini
juga lebih encer dibandingkan dengan jenis madu lainnya.
Menurut salah satu pembudidaya madu Klanceng asal Desa Wedi, Klaten, Widodo, 46, manfaat atau kegunaan madu ini sangat banyak. Diantaranya mencegah terjadinya kerusakan sel, membantu regenerasi sel organ, sebagai anti kanker, tumor, anti bakteri, antibiotik, anti peradangan.
“Selain itu, madu ini juga berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi penyakit gula, penyakit jantung, stroke, bahkan bisa menghambat perkembangan virus HIV/AIDS. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya,” terangnya kepada JawaPos.com, Sabtu (11/11).
Widodo menguraikan, madu lanceng ini dihasilkan oleh lebah yang bernama lanceng. Lebah ini tidak mempunyai sengat seperti lebah lainnya. “Sebagai senjatanya madunya sangat lengket dan mampu merekatkan benda,” katanya.
Widodo menceritakan awal mula dirinya menjadi seorang pembudidaya madu lanceng. Awalnya, dirinya diberitahu oleh tetangganya bahwa madu lanceng bisa mengobati penyakit istrinya Ninditaningsih yang menderita penyakit gagal ginjal. “Istri saya itu setiap minggu dulu cuci darah, dan setelah rutin minum madu lanceng selama satu tahun sekarang sembuh total dan tidak pernah lagi cuci darah,” ceritanya.
Dari pengalaman itulah, Widodo pun berusaha untuk mendapatkan lebah lanceng. Ia mencari di beberapa lokasi yang ada di desanya. Dan akhirnya dia mampu mengembangbiakannya seperti sekarang ini. “Ternyata madu lanceng ini sudah lama dibudidayakan di sejumlah negara seperti Brazil, Malaysia dan negara lainnya,” katanya.
Awal membudidayakan madu Klanceng, Widodo belajar secara autodidak. Ia banyak membaca di internet mengenai beternak Klanceng ini. Dan sekarang sudah empat tahun Widodo menjadi pembudidaya madu Klanceng. “Untuk budidaya lebah Klenceng ini tidak sulit. Karena, begitu dilepas, mereka akan mencari makanannya sendiri,” katanya.
Berkat ketekunannya, sekarang dalam sebulan Widodo mampu mengantongi omzet hingga Rp 80 juta per bualn. “Banyak yang sudah membeli lebah Klanceng di tempat kami. Mulai dari Sumatera, Kalimantan dan beberapa kota lain di Indonesia,” tandasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
