
RILIS PERKARA: Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo (memegang mikrofon) mengungkapkan kasus penganiayaan terhadap anak berumur 5 tahun di Mapolda DIY, Kamis (26/10).
JawaPos.com - Bengkaknya mata dari anak berinisial FR, 5, mengungkap kejadian yang dia alami. Bocah yang tercatat tinggal di Perum Kadirojo, Kabupaten Sleman, diketahui menjadi korban tindak kekerasan. Pelakunya ternyata dua orang tua asuh yang masih memiliki hubungan darah.
Pemeriksaan awal dilakukan petugas Polda DIY pada Sabtu (21/10). Pelaku beralasan lebam pada mata korban akibat terkena air kencing kecoa. ''Alasannya dipipisi kecoa. Karena ini anak kecil (korban), jadi pendekatan kami berbeda,'' kata Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Hadi Utomo, Kamis (26/10).
Jajarannya membawa korban ke Jogja International Hospital. Setelah diperiksa, diagnosis dokter menyatakan akibat benda tumpul. Kemudian korban saat itu juga dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta untuk dilakukan pengembangan.
''Dari hasil visum, memang benar. Kekerasan dilakukan oleh kedua orang tua asuhnya yang merupakan pakde dan budenya,'' terang Hadi.
Sabtu (21/10) malamnya, kedua tersangka itu kemudian diamankan di rumahnya. Mereka berinisial SSH (41) dan DAIW (34). ''Alasan pelaku menganiaya karena korban tidak mau menuruti arahan tersangka,'' bebernya.
Akibat tidak menurut, korban sering dipukul dengan benda tumpul. Terluka di bagian pelipis mata, punggung, dan jari. ''Namun, belum ada kesimpulan gegar otak,'' lanjut Hadi
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Yogyakarta Sari Murti Widyastuti mengatakan korban ini merupakan tipe anak yang aktif dan cerdas. ''Biasanya anak yang cerdas banyak ulah. Yang dewasa (pengasuhnya, red) tidak mampu menghadapi, sehingga dianggap njengkelke (menjengkelkan, red),'' katanya.
Saat melakukan pendekatan terhadap FR, ia diketahui sudah bisa mempelajari bahasa Inggris dan melebihi anak-anak seusianya. ''Dia belajar otodidak,'' ucapnya.
Rencaranya, anak ini nantinya setelah dari RS Bhayangkara, akan diberikan tempat yang sesuai. Agar lebih bisa mengembangkan potensinya. ''Saat ditanya, apa masih akan tinggal dengan orang tua asuh, katanya tidak mau. Dia hanya pengen sekolah,'' ujar Hadi.
Mengenai orang tua kandung dari korban, dikatakan Sari, memang saat ini masih ada. Namun, masih dilakukan pemeriksaan lebih jauh oleh petugas kepolisian. ''Alasan mengapa tinggal dengan orang tua asuhnya, belum bisa diungkapkan. Ia sudah tiga tahun di sana (bersama orang tua asuh, red),'' pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
